Rabu, 27 Agustus 2008

>IMAM MAHDI YANG BENAR AKAN DIMUSUHI ULAMA; JIN dan MANUSIA

Salah satu ciri kedatangan Imam Mahdi yang benar adalah bahwa beliau itu bukannya di-eluk-elukan dengan sambutan yang mesra tetapi permusuhan-lah yang beliau dapatkan itu. Bilamana Imam Mahdi yang sudah dijanjikan kedatangannya itu memang wujud yang benar adanya, maka Allah Taala akan mendukung dan menolong beliau dan Jama’atnya dengan kemenangan yang nyata, yang dapat dilihat dan disaksikan oleh orang-orang yang mau menggunakan akal sehatnya, betapa pun ia dimusuhi orang..

Imam Muhyiddin Ibnu Arabi r.a. menulis di dalam bukunya Futuhat Makiah jilid III halaman 374:

Wa idzaa kharaja hadzaal imaamul mahdiyyu fa laisa lahu ‘aduwwun mubiin illal fuqahaa’u khashshat.
Apabila Imam Mahdi datang, waktu itu yang menjadi musuh-musuh beliau tidak lain melainkan ulama-ulama dan fuqahaa (ahli fiqih).

NABI-NABI DITOLAK OLEH JIN DAN MANUSIA (Alqur-aan; Surah Al-An’aam ayat 111-112)

Surat Al An’aam -6- ayat 112:

Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh berupa Syaitan dari manusia dan jin.



Wa ka dzaalika ja’alnaa li kulli nabiyyin ‘aduwwan syayaathiinal insi wal jinni yuuhii ba’dhuhum illa ba’dhin zukhrufal qauli ghuruuraw wa lau syaa-a rabbuka maa fa’aluuhu fa dzarhum wa maa yaftaruun.

Dan, dengan cara demikian Kami menjadikan musuh setiap Nabi, Syaitan-syaitan di antara manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui. Dan, jika Tuhan engkau menghendaki, mereka tidak akan mengerjakannya; maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan itu.

Kata-kata manusia dan jin yang banyak kali disebut dalam ayat-ayat Alqur-aan bukanlah berarti ada dua macam mahluk Allah yang berlainan; kedua-duanya adalah golongan manusia juga. Manusia mengisyaratkan pada manusia biasa, orang-orang awam atau rakyat jelata, sedangkan jin di-isyaratkan kepada orang-orang besar yang biasa hidup memisahkan diri dari rakyat jelata dan tidak berbaur dengan rakyat sehingga boleh dikatakan tersembunyi dari penglihatan umum.

Surat Al An’aam -6- ayat 111:

Biarpun malaikat dan orang-orang yang sudah mati yang berbicara dengan mereka, mereka tokh tetap tidak akan beriman kepada Nabi, Utusan Allah itu:



Wa lau annanaa nazzalnaa ilaihimul malaa-ikata wa kallamahumul mautaa wa hasyarnaa ‘alaihim kulla syai-in qubulam maa kaanu li yu’minuu illaa ay yasyaa-allaahu walaakinna aktsarahum yajhaluun.

Dan, sekalipun jika Kami menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami mengumpulkan di hadapan mereka segala sesuatu berhadap-hadapan, niscaya mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak berpengetahuan.

Salah satu tugas dari malaikat-malaikat ialah untuk membisikkan kepada manusia pikiran-pikiran baik untuk mengajak pada kebenaran; yang kadang-kadang malaikat-malaikat ini melaksanakan tugasnya dengan melalui mimpi-mimpi dan kasyaf (vision). Orang-orang muttaki yang sudah wafat kadang-kadang muncul di dalam mimpi orang yang dikenalnya untuk membenarkan da’wa Nabi, Utusan Allah.

Jadi demikianlah agar dapat dimaklumi oleh orang-orang yang bisa menggunakan akal sehatnya, dan dengan mempelajari Hadits-hadits Nabi saw. dan Firman Allah Taala di dalam Kitab Suci Alqur-aan, maka penolakan dan permusuhan kepada Nabi-nabi dan Imam Mahdi itu, justru akan membenarkan dan menggenapi nubuatan-nubuatan yang sudah diberikan oleh orang-orang suci itu.

Tetapi bagi orang-orang yang hasud dan berpikiran dengki, biarpun malaikat yang memberi-tahukannya kepada mereka, atau leluhur mereka dan orang-orang suci yang meng-isyaratkannya kepadanya tentang kebenaran Nabi dan Utusan Allah itu, tokh mereka tetap saja tidak akan mau mempercayainya; sampai Allah Taala sendiri yang memberi taufik dan hidayat kepada mereka untuk menerima kebenaran itu.


وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَ الَمِينَ

“Wa aakhiru da’wahum anil hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin”
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS 10:10)


Rabu, 27 Agustus 2008.

>Penentuan Awal Ramadhan

Penulis: Ustadz Zuhair Syarif

1. Cara menentukan Ibadah Puasa dan Iedul Fithri

Awal puasa ditentukan dengan tiga perkara :
1. Ru’yah hilal (melihat bulan sabit).
2. Persaksian atau kabar tentang ru’yah hilal.
3. Menyempurnakan bilangan hari bulan Sya’ban.

Tiga hal ini diambil dari hadits-hadits dibawah ini :

Selasa, 26 Agustus 2008

>Tentang Hizbut Tahrir di Indonesia

Mungkin sebagian teman-teman heran, kenapa saya seperti terobsesi untuk melakukan kritik terhadap kelompok bernama Hizbut Tahrir (HT) itu.

Ketika masih di Jakarta dulu, saya sering sekali melakukan "tour" ke sejumlah kampus untuk menghadiri sejumlah diskusi yang diadakan oleh beberapa kelompok mahasiswa. Selain ke kampus, saya juga sering mendatangi forum-forum diskusi di tingkat kabupaten.

Sungguh di luar dugaan saya, bahwa Hizbut Tahrir cukup mendapatkan pengaruh yang lumayan di sejumlah kampus. Kalau saya katakan "lumayan" bukan berarti besar sekali. Tetapi sebagai pemain baru, gerakan ini cukup sukses menanamkan pengarus di sejumlah kampus, seperti IPB di Bogor, misalnya.

Yang mengherankan, saat diundang diskusi ke sebuah pesantren kecil di kota Tuban, saya bertemu juga dengan beberapa aktivis HT di sana. Sepanjang diskusi, mereka membuat "onar" dengan cara bertanya yang sangat agresif dan meneriaki seseorang yang berpendapat berbeda. Saya tak menduga bahwa mereka bisa mempunyai pengaruh hingga ke wilayah kabupaten.

Memang secara umum, pengalaman berdiskusi dengan kalangan fundamentalis di beberapa tempat sangat tidak menyenangkan, karena mereka sama sekali tak mengikuti cara-cara berdiskusi yang beradab.

Suatu saat saya pernah diundang ke Universitas Muhammadiyah Malang dalam sebuah diskusi yang juga menghadirkan salah seorang cendekiawan Muhammadiyah, Dr. Syafiq Mughni. Dalam diskusi itu ada sejumlah aktivis HT yang hadir dan, sekali lagi, membuat "onar" dengan cara mereka sendiri, antara lain dengan teriakan-terakan Allahu Akbar. Pak Syafiq sampai terheran dan berujar, kok Universitas Muhammadiyah jadi begini.

Pemandangan yang sangat lucu terjadi pada sebuah diskusi yang diadakan oleh Kedutaan Amerika di Hotel Hilton (sekarang berubah menjadi Hotel Sultan [untung bukan Hotel Khalifah]) beberapa tahun lalu. Saat itu, saya menjadi moderator, dan diskusi dilangsungkan dalam bahasa Inggris. Seorang aktivis HT "ngacung" dan bertanya dalam bahasa Arab. Ketika saya peringatkan bahwa sebaiknya memakai bahasa Inggris atau Indonesia saja, dia ngotot. Pertanyaannya sama sekali tak berkenaan dengan isi diskusi. Pokoknya meracau saja.

Rupanya, kelompok HT memang memakai strategi yang unik, yaitu dengan cara mengirim aktivis mereka ke sejumlah diskusi publik untuk mengampanyekan ide mereka tentang "khilafah". Walaupun diskusinya tidak berkaitan dengan tema itu, mereka paksakan saja saat sesi tanya-jawab untuk melontarkan isu tersebut.

Strategi ini ternyata merupakan metode yang sengaja mereka praktekkan di mana-mana. Kalau anda membaca buku karangan mantan aktivis HT di Inggris yang "sadar" dan keluar dari organisasi itu, yaitu Ed Husein yang menulis buku "The Islamist" itu (buku ini sudah terbit dalam edisi Indonesia oleh Penerbit Alvabet, Jakarta), anda akan tahu bahwa cara serupa juga mereka terapkan di Inggris di sejumlah kampus.

Strategi lain yang baru saya sadari belakangan adalah dengan cara memakai literatur fikih dan ushul fikih klasik untuk mendukung ide-ide mereka. Strategi ini saya kira mereka tempuh untuk menghadapi kalangan pesantren di Indonesia yang akrab dengan khazanah fikih dan ushul fikih itu. Saya senang dengan strategimereka yang satu ini, karena dengan demikian mereka akan dengan mudah dipatahkan melalui tradisi fikih dan ushul fikih sendiri yang sangat kaya itu.

Meski mereka memakai fikih dan ushul fikih, cara mereka mendekati kedua disiplin itu adalah dengan melakukan "ideologisasi" , yakni mengunci fikih dan ushul fikih pada perspektif tertentu secara kaku, mengabaikan watak "polifonik" atau "polisemik" dari keduanya. Cara mereka seperti ini akan menjadi "boomerang" bagi mereka sendiri. Fikih dan ushul fikih sama sekali tak bisa di-fiksasi, karena wataknya yang sejak awal sangat lentur dan "fluid".

Menurut saya, meski kelompok HT sama sekali tak besar, tetapi ini adalah kelompok yang sangat mengancam di masa mendatang. Kelompok ini memang tidak memakai metode kekerasan, tetapi cara-cara indoktrinasi mereka sangat kondusif untuk lahirnya kekerasan. Mereka memakai metode konfrontasi dengan membagi dunia secara hitam putih, dunia Islam dan dunia kafir.

Kalau anda baca pamflet-pamflet mereka yang secara agresif mereka sebarkan, entah melalui majalah bulanan atau buletin mingguan pada hari Jumat, mereka dengan "ngoyo" --tetapi kadang-kadang lucu dan menggelikan- - mencoba menganalisa peristiwa- peristiwa politik, baik domestik dan internasional, dengan cara yang sangat klise, yaitu mengembalikan seluruh masalah di dunia ini kepada kapitalisme, sekularisme, dan demokrasi, seraya mengajukan alternatif sistem khilafah sebagai solusi.

Dalam pandangan mereka, semua hal bisa diselesaikan dengan syari'ah Islam, mulai dari problem WC rusak (maaf, jangan terkecoh, ini hanya ungkapan yang saya pakai secara metaforis saja!) hingga ke sistem perdagangan dunia yang tak adil.

Saya sedang membaca kembali semua literatur HT yang ditulis oleh Taqiyyuddin al-Nabhani dan Abdul Qadim Zallum. Seluruh karangan mereka lengkap saya temukan di perpustakaan Universitas Harvard. Tidak mudah membaca buku kedua pengarang ini. Bukan karena sulit, tetapi karena isinya membosankan dan penuh dengan "non-sense". Saya heran, bagaimana mungkin anak-anak muda bisa tergoda dengan ideologi yang non-sense seperti ini.

Saya kira, salah satu penjelasannya adalah bahwa ideologi HT ingin tampil sebagai ideologi revolusioner yang hendak menjadi alternatif atas kapitalisme dan demokrasi. Anak-anak muda yang sedang mengalami fase "sturm und drang", fase pubertas intelektual dan mencari "bentuk", mungkin mudah tertarik dengan ideologi yang hendak menampilkan diri sebagai "Che Guevara" dengan baju Islam ini.

Saya tak menyalahkan anak-anak muda itu. Tugas kaum intelektual Muslim lah membongkar kepalsuan ideologi HT dengan menampilkan interpretasi yang beragam mengenai Islam, terutama interpretasi sejarah Islam yang hendak dimanipulas oleh kalangan HT. Beberapa kalangan terpelajar Muslim yang belajar di universitas Barat, tetapi tidak terdidik dalam studi Islam yang sistematis, juga ada yang jatuh kedalam "perangkap" kelompok ini. Saya sungguh heran, bagaimana kaum terpelajar yang berpikir secara rasional bisa percaya pada "non-sense" seperti dikemukakan oleh HT itu.

Beberapa kalangan pesantren di Jawa Timur, saya dengar, juga ada yang sudah mulai terpengaruh. Saya kira, taktik HT yang juga memakai literatur fiqh al-siyasah (fikih politik) klasik seperti al-Ahkam al-Sulthaniyya karangan Imam al-Mawardi (w. 1058 M), dalam beberapa kasus, membuahkan hasil. Sejumlah kiai dan santri yang tak mengerti peta perkembangan ideologi Islam internasional, dengan gampang "ditipu" oleh kelompok ini dengan retorika yang sengaja dibuat begitu rupa sehingga seolah-olah berbau fikih.

Kelompok ini dilarang di sejumlah negeri Arab dan Eropa, tetapi menikmati kebebasan yang penuh di Indonesia, bahkan berhasil mengadakan konferensi khilafah internasional pada 12 Agustus 2007 di Senayan. Tak kurang dari Ketua Umum Muhammadiyah, Dr. Din Syamsuddin, ikut menghadiri konfrensi itu dan memberikan sambutan. Isu Ahmadiyah yang menghangat di tanah air beberapa waktu lalu merupakan "lahan basah" yang dengan cerdik dipakai oleh sejumlah tokoh HT untuk menghimpun "credit points" di mata umat.

Bersama kelompok-kelompok lain seperti FUI dan FPI, HT dengan agresif melancarkan kampanye pembubaran Ahmadiyah di Indonesia. Salah satu tokoh mereka, Muhammad Al-Khaththath yang berhasil "menyusup" menjadi pengurus MUI Pusat, tampil sebagai salah satu figur sentral dalam kampanye ini. Isu Ahmadiyah memang isu yang sangat murah untuk meraih "credit points" di mata umat, tanpa resiko apapun.

Menurut saya, harus ada usaha yang sistematis untuk melawan secara intelektual ideologi HT. Ada kecenderungan yang sangat kuat ke arah totalitarianisme dan fasisme dalam ideologi ini yang sangat berbahaya bagi umat Islam.

Kelompok ini jauh lebih berbahaya ketimbang kelomopok salafi yang umumnya hanya menekankan "puritanisme dan kesalehan individual". Mereka juga berbahaya persis karena sikapnya yang "konfrontatif" terhadap sistem politik yang ada di Indonesia: mereka menolak menjadi partai politik dan ikut pemilu karena menganggap demokrasi sebagai sistem kafir, padahal mereka sendiri adalah sebuah partai (terbukti dengan nama mereka, "hizb"). Karena berada di luar sistem, mereka bisa bertindak di luar kontrol.

Yang mengherankan adalah sikap pemerintah Indonesia yang bertindak secara kurang tepat dalam dua kasus berikut ini. Sementara dalam kasus Ahmadiyah, pemerintah takluk pada tekanan kaum Islam fundamentalis, termasuk Hizbut Tahrir, untuk membubarkannya, pada kasus Hizbut Tahrir memperlihatkan kelonggaran yang luar biasa. Memang SKB Ahmadiyah tidak membubarkan kelompok itu, tetapi hanya sebatas membatasi kegiatannya. Karena tidak puas, kelompok-kelompok fundamentalis ini, di masa mendatang, tentu akan terus melakukan tekanan agar membubarkan Ahmadiyah.

Padahal jelas sekali tujuan akhir HT bertentangan sama sekali dengan tujuan negara Indonesia. HT ingin menggantikan Indonesia sebagai negara plural berdasarkan Pancasila dengan negara khalifah atau negara Islam universal. Sementara tujuan kelompok Ahmadiyah sama sekali tak ada yang bertentangan dengan tujuan negara Indonesia.

Meskipun saya sendiri bersikap bahwa setiap kelompok, aliran, sekte, dan mazhab apapun harus diberikan kebebasan untuk berserikat dan menyatakan pendapat di Indonesia sesuai dengan mandat konstitusi kita. Baik Ahmadiyah, Hizbut Tahrir, dan kelompok-kelompok lain haruslah diberikan kebebasan yang sama. Saya hanya mau menunjukkan paradoks kebijakan yang ditempuh pemerintah.

Meskipun saya menganjurkan agar semua kelompok diberikan kebebasan berpendapat, tetapi kita, terutama masyarakat sipil, harus terus-menerus melakukan kritik atas ideologi atau paham yang menyebarkan kebencian pada kelompok atau aliran yang berbeda, yang tujuan akhirnya berlawanan dengan tujuan negara Indonesia, seperti kelompok HT ini.

Dalam beberapa "note" mendatang, insyaallah saya akan berusaha menulis sejumlah kritik atas ideologi negara khilafah yang dilontarkan oleh HT.

Ulil Abshar Abdalla

>Toleransi beragama ala Cak Nun

Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu belajar di Jogja. Waktu itu, tiap Rabu malam, saya dan teman- teman memilih nglurug ke patang puluhan, rumahnya Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan kiai mbeling Emha Ainun Nadjib.

Kita bikin forum melingkar di situ. Biasanya kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, tapi juga ngobrolin soal keagamaan.

Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. Komandannya anak Solo, Nasution Wahyudi. Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dgn Nasution yang dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma mahasiswa atau pemuda yang beragama Islam. Pendek
kata, pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar disitu.

Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu.
"Apakah anda semua punya tetangga?"

Wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak kost, tentu saja kamar sebelah saya bisa disamakan dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi saya ikut-ikutan saja menjawab : "Tentu saja punya".

Cak Nun melanjutkan bertanya : "Punya istri enggak tetangga Anda?"

Sebagian hadirin menjawab : "Ya, punya dong".
Saya diam saja. Rasanya tetangga kost saya bujangan semua. Kebanyakan jomblo. Maklum anak desa.
Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya.

Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya :
"Apakah anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?
Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus atau ada bekas korengnya ?"

Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah pembicaraan Cak Nun.

Kebanyakan menjawab : "Tidak pernah memperhatikan Cak. Ono opo Cak?"

Cak Nun ndak peduli.
Dia tanya lagi : "Body-nya sexy enggak?"

Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh.
Apalagi saya yang benar-benar tidak faham arah pembicaraan sang Kiai mbeling itu.

Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis.
Jawabannya bagus banget. Dan ini senantiasa saya ingat sampai hari ini. Sebuah prinsip pergaulan untuk sebuah
negeri yang memilih Pancasila : "Jadi ya begitu. Jari kakinya lima atau tujuh. Bodynya sexy atau tidak bukan
urusan kita,kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau
perdebatkan. Biarin saja".

"Kenapa cak?" salah satu teman bertanya, penasaran.

"Ya apa urusan kita ? Nah, keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya
begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati saja".

Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan.
Saya setuju dengan pandangan Cak Nun.

Dia melanjutkan serius : "Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.

Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak
pakai dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. "

Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya.

Cak Nun terus berkata : "Itu prinsip kita dalam memandang berbagai agama. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, dia boleh pinjam baju koko tetangganya
yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.
Begitu."

Kami semua terus menyimak paparannya.

"Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. Itu sama aja anda ngajak gelut tetangga anda. Mana ada orang yang mau isterinya dibahas dan diomongin tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan,
aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing. "

"Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihkan kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Itulah lingkaran tulus hati dgn hati. Itulah maiyah," ujarnya.

Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris tanpa emosi. Tapi serius dan dalam. Saya menyimaknya sungguh-sungguh. Dan saya catat baik-baik dalam hati saya. Sayangnya dunia memang tidak ideal.
Di Ambon dan Palu, misalnya saya lihat terlalu banyak orang usil mengurusi isteri tetangganya. Begitu juga di berbagai tempat di dunia. Di Bosnia. Atau yang paling baru di Irak dan Afghanistan. Akibatnya ya perang dan hancur-hancuran. Menyedihkan.

Sangat menyedihkan.

Senin, 25 Agustus 2008

>SYAITAN MENGHASUT MANUSIA UNTUK INGKAR KEPADA TUHAN

Syaitan menghasut manusia untuk mengingkari dan menolak Utusan Allah.
Syaitan sendiri sebenarnya takut kepada Tuhan dan takut pada azab Tuhan.
Oleh karena itu, Syaitan tidak bertanggung-jawab atas keingkaran manusia kepada Nabi Allah itu.
Jadi Syaitan telah mengecoh manusia dalam pembangkangannya kepada Utusan Allah.
Syaitan dan iblis mengecoh dan menyesatkan manusia karena menjalankan tugasnya belaka.

Bacalah Firman Allah Taala, ayat-ayat dalam Kitab Suci Alqur-aan:

Surat Maryam -19- ayat 83:

A lam tara annaa arsalnasy syayaathiina ‘alal kaafiriina ta-uzzuhum azzaa.
Tidakkah engkau melihat bahwa Kami telah mengirim syaitan-syaitan kepada orang-orang untuk menghasut mereka orang-orang ini untuk ingkar dan menjadi orang yang kafir?

Surat Al Anfaal -8- ayat 48:

Wa idz zayyana lahumusy syaithaanu a’maaluhum wa qaala laa ghaaliba lakumul yauma minan naasi wa inni jaarul lakum fa lammaa taraa-atil fi-ataani nakasha ‘alaa ‘aqibaihi wa qaala innii barium minkum innii araa maa laa tarauna innii akhaafullaaha wallaahu syadiidul ‘iqaab.
Dan ingatlah ketika syaitan menampakkan indah kepada mereka amal-amal mereka dan berkata, “Tak seorang pun di antara manusia yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sungguh-sungguh aku akan menjadi pelindungmu.” Tetapi, ketika kedua pasukan itu berhadapan satu sama lainnya, maka berbaliklah ia (syaitan-syaitan itu) di atas tumitnya (lari tunggang langgang) sambil berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu; sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya, aku takut kepada Allah; dan sangat keras siksaan Allah itu.”

Surat Muhammad -47- ayat 25:

Innal ladziinar tadduu a’laa adbaarihim mim ba’di ma tabayyana lahumul hudasy syaithaanu sawwala lahum wa amlaa lahum.
Sesungguhnya, orang-orang (manusia) yang berpaling atas punggung mereka sesudah jelas bagi mereka petunjuk, syaitan telah menampakkan indah perbuatannya bagi mereka. Dan memberikan harapan-harapan palsu kepada mereka.

Surat Al Hasyr -59- ayat 16:

Ka matsalisy syaithaani idz qaala lil insanikfur fa lammaa kafara qaala innii barii-um minka innii akhaafullaaha rabbal ‘aalamiin.
Seperti keadaan syaitan ketika ia berkata kepada manusia, “Kamu Ingkarlah; maka, tetapi setelah ia orang itu ingkar, syaitan berkata, “Aku berlepas diri dari engkau, sesungguhnya aku takut kepada Allah. Tuhan semesta alam!”

Jadi demikianlah nasihat dari Kitab Suci Alqur-aan, agar jangan sampai orang, manusia itu terbujuk, terkecoh dan dapat dijerumuskan oleh Syaitan untuk ingkar kepada Tuhan, untuk mengingkari Nabi-Nya, menolak Utusan Tuhan; padahal Syaitan itu sendiri sebenarnya amat takut kepada Tuhan, takut pada ancaman azab Tuhan yang pasti benarnya itu. Ada pun Syaitan itu membujuk dan mengecoh manusia hanyalah dikarenakan menjalankan tugas Syaitan, untuk menguji ketaatan manusia kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Tetapi janganlah khawatir, tidak semua orang dapat dikecoh dan disesatkan setan dan iblis:

Al – Araf -7- ayat 200-201:

Wa imam yanzaghannaka minasy syaithaani nazghun fas ta’idz billaahi innahuu samii’un ‘aliim.
Dan, jika suatu godaan Syaitan menggoda engkau, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Innal ladziinat taqau idzaa massahum thaa-ifum minasy syaithaani tadzakkaruu fa idzaa hum mubshiruun.
Sesungguhnya, orang-orang yang bertakwa apabila mereka digoda oleh suatu godaan dari Syaitan, mereka ingat kepada Allah, dan mereka dapat melihat mana yang benar.

Iblis dan Syaitan bertekad untuk mengecoh dan menyesatkan manusia semuanya:


Qaala fa bi ‘izzatika la ughwiyannahum ajma’iin. Surah Shaad -38- ayat 82.
Terkecuali hamba-hamba Tuhan yang suci bersih dan yang benar-benar tunduk mengabdi.


Illa ‘ibaadaka minhumul mukhlasiin. Surah Shaad -38- ayat 83
Kecuali hamba-hamba Engkau yang terpilih di antara mereka, yaitu yang hatinya suci dan tunduk.


وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Wa aakhiru da’wahum anil hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin”
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS 10:10)



Jum’at, 22 Agustus 2008.

>MEMBENCI APA YANG DITURUNKAN (Wahyu dari) ALLAH!

DAN ALLAH PUN SUDAH MENETAPKAN KETENTUAN YANG PASTI BAGINYA.
Tetapi kita masih tetap berdoa semoga orang ini menjadi sadar akan Kebesaran, Ke-Agungan dan Kelanggengan Tuhan dalam menurukan wahyu-wahyu-Nya kapan saja sesuai Kebijaksanaan-Nya, kemudian orang ini akan diampuni dosa-dosanya dan memperoleh rahmat dan belas kasihan dari Allah Maha Pengampun Maha Pemberi Rahmat.

BACALAH KITAB SUCI ALQUR-AAN SURAH MUHAMMAD (47)

Surat Muhammad -47- ayat 9 s/d 11:

Celakalah! Orang-orang yang ingkar ini. Mereka membenci pada apa yang diturunkan (diwahyukan) Allah. Allah Taala menghapuskan amal-amal mereka dan membinasakan mereka semuanya itu:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْساً لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ ﴿٨﴾
Wal ladziina kafaruu fa ta’sal lahum wa adhalla a’maalahum.
Dan orang-orang yang ingkar, celakalah bagi mereka; dan Dia membuat sia-sia amal mereka. (47:9)

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ ﴿٩﴾

Dzaalika bi annahum karihuu maa anzalallaahu fa ahbatha a’maalahum.
Demikian itu disebabkan mereka membenci apa yang telah diturunkan Allah, maka Dia telah menghapus amal-amal mereka. (47:10)

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا ﴿١٠﴾

A fa lam yasiiruu fil ardhi fa yanzhuruu kaifa kaanaa ‘aaqibatul ladziina min qablihim dammarallaahu ‘alaihim wa lil kaafiriina amtsaaluhaa.
Apakah mereka tidak bepergian di bumi dan melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Allah telah membinasakan mereka, dan bagi orang-orang kafir itu akhirnya seperti mereka. (47:11)

Surat Muhammad -47- ayat 23 s/d 31:
Celakalah! Orang-orang yang ingkar ini. Mereka membenci pada apa yang diturunkan (diwahyukan) Allah. Allah Taala akan menghapus amal-amal mereka dan membinasakan mereka:

Orang seperti ini jika diberi kekuasaan akan berbuat kerusuhan dan kerusakan di bumi, akan memecah belah masyarakat dan merusak hubungan kekerabatan antar masyarakat, dengan menyulut pertikaian.

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ﴿٢٢﴾

Fa hal ‘asaitum in tawallaitum an tufsiduu fil ardhi wa tuqaththiu’ arhaamakum. (47:23)
Maka, apakah jika kamu berkuasa, akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu?

Itulah ciri orang yang dilaknat oleh Allah, ia tidak mau mendengar penjelasan orang dan tidak mau melihat kenyataan sejarah.

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ ﴿٢٣﴾
Ulaa-ikal ladziina la’anahumullaahu fa ashammahum wa a’maa abshaarahum. (47:24)
Itulah orang-orang yang dilaknat Allah, maka Dia telah membuat tuli telinga mereka dan menjadikan buta penglihatan mereka.

Orang ini membaca Alqur-aan tetapi tidak mau memperhatikan dan merenungkan maksudnya, seolah-olah hati mereka itu sudah tertutup, sudah terkunci.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ﴿٢٤﴾

A fa laa yatadabbaruunal qur-aana am ‘alaa quluubin aqfaaluhaa. (47:25)
Apakah mereka tidak mau merenungkan Alqur-aan, ataukah hati mereka sudah terkunci?

Syaitan telah mengecoh mereka dengan hal yang indah dan harapan-harapan palsu sehingga mereka itu membalikkan punggungnya dengan tidak mengindahkan petunjuk yang sudah jelas.

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ ﴿٢٥﴾

Innal ladziinaar tadduu ‘alaa adbaarihim mim ba’di maa tabayyana lahumul hudasy syaithaanu sawwala lahum wa amlaa laum. (47:26)
Sesungguhnya orang yang membalikkan punggung mereka setelahnya petunjuk itu jelas bagi mereka, itulah syaitan yang telah menampakkan keindahan bagi mereka; dan yang memberikan harapan-harapan palsu kepada mereka.

Orang ini bergabung dengan orang yang membenci pada wahyu yang diturunkan oleh Allah, orang ini mengadakan conspiracy, persekongkolan jahat dalam beberapa perkara.

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ ﴿٢٦﴾

Dzaalika bi annahum qaaluu lil ladziina kariihu maa nazzalallaahu sa nuthiiukum fii ba’dhil amri wallaahu ya’lamu israarahum. (47:27)
Yang demikian itu dikarenakan mereka itu bercakap dengan orang yang membenci apa yang diturunkan (diwahyukan) Allah, “Kami akan mentaati kamu dalam beberapa perkara, dan Allah mengetahui rahasia-rahasia (conspiracy) mereka.

Orang ini baru akan tahu pada saat malaikat memukuli mereka dan akan mencabut nyawa mereka.

فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ ﴿٢٧﴾

Fa kaifa idzaa tawaffat-humul malaaikatu yadhribuuna wujuuhahum wa adbaarahum. (47:28)
Maka bagaimanakah apabila malaikat-malaikat akan mematikan mereka dengan memukul muka mereka dan punggung mereka.

ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ ﴿٢٨﴾

Dzaalika bi annahumut taba’uu maa askhathallaaha wa karihuu ridhwaanahuu fa ahbatha a’maalahum . (47:29)
Yang demikian itu disebabkan mereka mengikuti apa yang tidak disukai Allah, dan mereka tidak menyukai keridhaan-Nya, maka Dia membuat amal mereka itu menjadi sia-sia.

Apakah dikiranya Allah tidak akan memperlihatkan hati mereka yang hasud dan dengki itu?

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَن لَّن يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ ﴿٢٩﴾

Amhasibal ladziina fii quluubihim marahun al lay yukhrijallaahu adhghaanahum. (47:30)
Apakah mengira orang yang di dalam hatinya ada penyakit itu Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka itu?

Rasul Allah dan pengikutnya dapat mengetahui ciri-ciri orang seperti itu dari nada dan ucapan kata-kata orang yang ingkar tersebut.

وَلَوْ نَشَاء لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ ﴿٣٠﴾

Wa lau nasyaa-u la arainaakahum fa la ‘araftahum bi siimaahum wa la ta’rifannahum fii lahnil qauli wallahu ya’lamu a’maalakum. (47:31)
Dan sekiranya kami menghendaki, niscaya Kami dapat memperlihatkan mereka kepada engkau (Rasul), sehingga engkau pasti mengenal mereka dari nada ucapan kata-kata mereka. Dan Allah mengetahui segala amal kamu.

Jadi, sekali lagi, celakalah! Mereka orang-orang yang ingkar ini. Mereka membenci pada apa yang diturunkan (diwahyukan) Allah. Maka Allah Taala akan menghapuskan amal-amal mereka dan membinasakan mereka semuanya itu.


وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Wa aakhiru da’wahum anil hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin”
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS 10:10)

Tetapi kita masih tetap berdoa semoga orang ini menjadi sadar, kemudian di ampuni dosa-dosanya dan memperoleh rahmat dan belas kasihan dari Allah Maha Pengampun Maha Pemberi Rahmat.
Begitu saja dari kami. Aamiin.

>LAA NABIYYA BA’DI

Dengan hanya berbekal satu dalil hadits saja “LAA NABIYYA BA’DI”, dan satu ayat Alqur-aan “Khaataman-Nabiyyiin” (33:40), yang itu pun dengan tidak mengerti akan maknanya yang benar, dan tidak juga dikutip dan dirujuknya ayat-ayat tersebut apalagi menerangkannya, Ulama-Mullah itu sudah berani mendustakan dan menentang Nabi, berani menghasut orang-orang untuk mendustakan dan menolak Nabi, mengkafirkan Nabi Allah dan pengikut Nabi, mengatakannnya sesat-menyesatkan dan keluar dari Islam, Ulama/ Mullah ini berani hanya dengan dukungan dari ijma mereka dan dari Kongres OKI, bukannya dukungan firman dari Allah SWT, dan dukungan dari sunnah dan sabda Nabi Muhammad saw.

Sejak Ahmadiyah berdiri seringkali dituduh, difitnah oleh para Ulama / Mullah yang belum mengerti, atau Ulama yang tidak mau mengerti, meskipun penjelasan yang penuh dalil dan argumentasi yang mudah dicerna oleh akal telah disampaikan kepada mereka. Ahmadiyah sudah berkali-kali menjelaskan bahwa Tadzkirah itu bukanlah Kitab Sucinya orang Ahmadiyah, Ahmadiyah bukanlah organisasi eksklusif tetapi inklusif, yang terbukti sudah berkembang dan diterima di 190 negara di dunia, dan di Indonesia pun sudah berdi 310 cabang Ahmadiyah. Ahmadiyah bukanlah organisasi di luar Islam dan orang yang mengikuti Ahmadiyah ini tidak dapat dikatakan murtad, apalagi disebut sebagai non-Muslim, dengan argumentasi bahwa orang Ahmadiyah itu mengaku bawa dirinya Islam, melaksanakan Rukun Islam serta meyakini Rukun Iman seperti yang dilaksanakan dan diyakini oleh umat Islam yang lain. Bahkan menurut hadits Nabi Muhammad saw.: “Orang menunaikan shalat sebagaimana shalat kita dan menghadap ke kiblat yang Kiblat kita Ka’bah di Kota Mekah dan memakan sembelihan kita, dia itu adalah seorang Muslim” (Shahih Bukhari, Kitabus Shalat, bab Fadhlu istiqbalil-Kiblah, hadits nomor 391).

Ulama/Mullah ini tidak menyadari ataukah bahkan sedemikian beraninya menentang kehendak Allah yang sudah men-takqdirkan dan menetapkan Risalah-Nya untuk mengangkat Rasul-rasul-Nya di bumi untuk dijadikan Utusan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-An’aam -6- 125:


……… allaahu a’lamu haitsu yaj’alu risaalatahuu ……..
……… Allah Maha Mengetahui di mana Dia akan menempatkan risalat-Nya, menempatkan Rasul atau Utusan-Nya ……..

Di mana sudah menjadi ketentuan umum bahwa manakala manusia telah jauh dari zaman nabi tersebut dan tiba saatnya Allah SWT sesuai sunnah-Nya harus mengirim Utusan-Nya untuk melakukan perbaikan di muka bumi; ini yang tidak terbayangkan di dalam benak dan alur pikiran manusia saat itu, apakah akan ada orang yang layak menjadi orang suci, menjadi nabi di antara manusia se-zaman dengannya itu. Itulah sebabnya mengapa Nabi-nabi Allah yang senantiasa datang untuk membawa kemajuan ruhani dan jasmani manusia, untuk menyelamatkan manusia dari bujukan syaitan hawa nafsu duniawi, dan untuk membawa dan membimbing manusia ke jalan-Nya kepada Allah Taala, senantiasa mendapatkan perlawanan dari kaumnya sebagaimana yang banyak kali difirmankan oleh-Nya di dalam Alqur-aan.
Semoga umat Islam dapat terhindar dari pandangannya yang salah dan sikap seperti itu, dan dengan karunia dan kasih-sayang-Nya serta ke-Murahan-Nya dapat terselamatkan dari kemurkaan Allah, sebagaimana yang sudah difirmakan-Nya.

Azab / Hukuman, kemurkaan Tuhan atas penolakan orang kepada Utusan-Nya.

Surah Al-Mu’minun -23- ayat 44:


Tsumma arsalnaa rusulanaa tatraa kullamaa jaa-a ummatar rasuuluhaa kadzdzabuuhu fa atba’naa ba’dhahum ba’dhaw wa ja’alnaahum ahaadiitsa fa bu’dal li qaumil laa yu’minuun.

Kemudian Kami kirimkan Rasul-rasul Kami satu demi satu. Setiap datang Rasul-Nya kepada umatnya, mereka mendustakannya. Maka Kami mengikutkan sebagian dari mereka dan mengikutkan sebagian dari mereka yang lainnya, dan Kami jadikan mereka hanya sebuah hikayat. Maka terkutuk dan kebinasaanlah bagi kaum yang tidak beriman itu!.

Kebinasaan mereka itu begitu mutlaknya, sehingga keturunan-keturunan mereka yang datang sesudahnya hanya dapat menceriterakan kisahnya saja, sebab sama-sekali tidak tertinggal bekas-bekas mereka itu.
Selanjutnya:


Surah Bani Isra’il -17- ayat 15:
Manih tadaa fa innamaa yahtadii li nafaihii wa man dhalla fa innanaa yadhillu ‘alaihaa wa laa taziru waaziratuw wizra ukhraa wamaa kunnaa mu’adzdzibiina hattaa nab’atsa rasuulaa.

Barangsiapa telah menerima petunjuk, maka sesungguhnya petunjuk itu adalah untuk dirinya; dan barang siapa sesat, maka kesesatan itu hanyalah untuk dirinya. Dan tiada pemikul beban akan memikul beban orang lain. Dan Kami tidak akan meng-azab sebelum Kami mengirimkan seorang Rasul.

Jadi sebelumnya malapetaka-malapetaka dan bencana-bencana itu menimpa bumi ini, sudah selayaknya Tuhan membangkitkan seorang Utusan pemberi peringatan, sebelumnya.

Surah Al Mu’min -40- ayat 34:

Wa laqad jaa-akum yuusufu min qablu bil bayyinaati fa maa ziltum fii syakkim mim maa jaa-akum buhii hatta idzaa halaka qultum lay yab’atsallaahu mim ba’dihii rasuulan ka dzaalika yudhillul-laahu man huwa musrifum murtaab.



Dan sesungguhnya telah datang kepadamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan terhadap apa yang dibawanya kepada kamu, Kemudian tatkala ia telah mati, kamu berkata: “Allah sekali-kali tidak akan mengutus sesudah dia seorang Rasul.” Demikianlah Allah telah menetapkan sesat, barangsiapa yang melapaui batas, yang ragu-ragu.

Maka,


Alladziina yujaadiluuna fii aayaatillaahi bi ghairi sulthanin ataahum kabura maqtan ‘indallaahi wa ‘indal ladziina aamanuu ka dzalika yathba’ullaahu ‘alaa kulli qalbi mutakabbirin jabbaar.

Mereka yang berbantah-bantahan tentang tanda-tanda Allah tanpa menggunakan dalil yang datang kepada mereka. Sungguh besar kemurkaan Allah di sisi orang-orang beriman. Demikianlah Allah menyegel setiap hati orang yang sombong, yang angkuh. (Surah Al-Mu’min -40- ayat 35).

Kaum Yahudi pun telah sepakat dalam ijma mereka bahwa: “Tidak ada nabi setelah Musa as.” Demikian juga di masa Nabi Muhammad saw., tidak saja manusia, tetapi jin sekali pun telah menyatakan pendapat mereka, atau mereka telah berprasangka bahwa: “Allah tidak akan lagi mengutus seorang Rasul pun.” Surah Al Jinn -72- ayat 8:

Wa annahuu kaana rijaalum minal insi ya’uudzuuna birijaalim minal jinni fa zaaduuhum rahaqaa.

Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana kamu menyangka bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang pun (Rasul).

Jadi semenjak zaman Nabi Yusuf a.s. orang-orang Yahudi dan orang-orang berikutnya itu pun tidak mempercayai lagi kedatangan Rasul mana pun sesudahnya Nabi Yusuf a.s. Dan bagi orang yang ingkar itu Allah Taala berfirman dalam Surah Al Jinn -72- ayat 15:


Wa ammal qaasithuuna fa kaanuu li jahannama hathabaa.

Dan ada pun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka itu menjadi bahan bakar jahannam.

Para Nabi Allah itu selalu mendapatkan perlawanan dari kaumnya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Yaa Siin -36- ayat 30:


Yaa hasratan ‘alal ‘ibaadi maa ya’tiihim mir rasuulin illa kaanuu yastahzi-uun.
Ah, sayang bagi hamba-hamba-Ku! Tidak pernah datang kepada mereka seorang Rasul, melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya, meng-olok-olokkannya.


A lam yarau kam ahlaknaa qablahum minal quruuni annahum ilaihim laa yarziuun.

Apakah mereka tidak melihatnya, betapa banyak keturunan yang telah Kami binasakan sebelum mereka, bahwa orang-orang itu tidak kembali lagi kepada mereka? (Surah Yaa Siin -36- ayat 31)
Isyarat ini agaknya tertuju pada azab Ilahi yang bersifat universal.

Dalam Surah Yunus -10- ayat 47 Allah Taala berfirman:


Wa li kulli ummatir rasuulun fa idzaa jaa-a rasuuluhum qudhiya bainahum bil qisthi wa hum laa yuzhlamuun.
Dan untuk setiap umat ada Rasul. Maka apabila Rasul mereka datang, diputuskan di antara mereka dengan adil, dan mereka tidak akan dianiaya.

dan ayat 10 : 50:

Qul ara-aitum in ataakum a’adzabuhuu bayaatan au nahaaram maadzaa yasta’jilu minhul mujrimuun.

Katakanlah: “Bagaimanakah pikiranmu, jika datang kepadamu azab-Nya di waktu malam atau siang hari; bagaimana orang-orang yang berdosa itu dapat melarikan diri dari azab ini?”

Dalam surah Ar Ra’du - 13 – ayat 7:


Wa yaquulul ladziina kafaruu lau laa unzila ‘alaihi aayatum mir rabbihii innamaa anta mundziruw wa li kulli qaumin haad.

Dan berkatalah orang-orang yang ingkar itu, “Mengapa tidak diturunkan kepada orang suatu Tanda dari tuhan-Nya?” Sesungguhnya engkau adalah seorang pemberi peringatan, dan bagi setiap kaum ada seorang pemberi petunjuk.

Bagi setiap kaum dan umat, Tuhan mengirimkan seorang Utusan, seorang pemberi petunjuk. Sedangkan “Tanda” itu jika dikaitkan dengan sesuatu yang lain selalu diartikan dengan “azab” dari Tuhan.

Dan sesungguhnya Kami mengutus dalam setiap umat seorang Rasul kepada setiap umat, supaya kamu menyembah Allah dan jauhilah orang yang melampaui batas. Maka sebagian dari mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan sebagian dari mereka ada yang dipastikan pada mereka kesesatan. Maka berjalanlah kamu di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibatnya orang-orang yang telah mendustakan Rasul-rasul itu.

Wa laqad ba’atsnaa fii kulli umatir rasuulan ani’ budullaaha waj tanibut taaghuutha fa minhum man hadallaahu wa minhum man haqqat ‘alaihidh dhalaalatu fa siiruu fil ardhi fan zhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul mukadzdzibiin. Surah An Nahl -16- ayat 36

Dan dalam Surah Faathir (35):

Ayat 24:

Innaa arsalnaaka bil haqqi basyiiraw wa nadziiraw w aim min ummatin illa khalaa fiihaa nadziir.
Sesungguhnya Kami mengutus engkau dengan kebenaran sebagai pembawa khabar suka dan pemberi peringatan. Dan tiada sesuatu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang Pemberi ingat.

Jadi, sebelum Alqur-aan diturunkan, kepada tiap-tiap kaum yang lampau pernah diutus seorang Rasul Allah, yang menyerukan kepada mereka seruan kebenaran. Azas yang mulia ini membawa kepercayaan bahwa semua agama itu berasal dari Tuhan, dan bahwa pendiri-pendiri agama itu adalah Rasul-rasul Allah. Inilah rukun iman yang wajib dipegang oleh setiap orang Muslim, dan karenanya harus menghormati dan memuliakan mereka itu semuanya. Dengan demikian Islam telah mengusahakan menciptakan iklim persahabatan dan harga menghargai di antara berbagai agama, dan menghilangkan serta meniadakan dendam kesumat, ketegangan apalagi anarkisme, yang telah meracuni perhubungan antara pengikut-pengikut berbagai agama dan aliran kepercayaan di seluruh dunia.

Ayat 25:

Wa iy yukadzdzibuuka faqad kadzdzabal ladziina min qablihim jaa-at hum rusuluhum bil bayyinaati wa bil kitaabil muuniir.
Dan, jika mereka mendustakan engkau, maka orang-orang sebelum mereka pun telah mendustakannya; telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan Tanda-tanda yang jelas dan dengan Kitab-kitab suci dan Kitab yang memberikan pencerahan.

Ayat 26:


Tsumma akhadztul ladziina kafaruu fa kaifa nakiir.
Kemudian Aku tangkap orang-orang yang ingkar, dan betapa mengerikannya penolakan terhadap -Ku itu!

Selanjutkan di dalam Surah Al-Hajj (22) difirmankan oleh Alla Taala:


Dan jika mereka berbantah dengan engkau, katakanlah: Allah Maha Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan

Wa in jaadaluuka fa qulillaahu a’lamu bi maa ta’maluun (Al-Hajj ayat 68).



Allaahu yahkumu bainakum yaumal qiyaamati fii maa kuntum fiihi takhtalifuun.

Allah akan menghakimi di antara kamu pada Hari Kiamat mengenai apa yang kamu perselisihkan
(Al-Hajj -22 – ayat 69).

Hadits Laa Nabiyya ba’di tidak dapat diragukan lagi tentang keshahihannya; tetapi tidak dapat dipungkiri akan adanya sabda-sabda beliau saw yang berkenaan dengan kedatangan Imam Mahdi dan Isa ibnu Maryam yang akan menjadi pemimpin bagi ummat Islam di akhir zaman yang memiliki predikat sebagi Nabi Allah dan Khalifah Allah di bumi, yang dengan kepemimpinannya itu akan meniadakan peperangan dan akan menegakkan kedamaian di bumi. Kalau diperhatikan secara sepintas saja, nampak seakan-akan ada kontradiksi satu sama lainnya dari hadits tersebut; yakni di satu kesempatan Nabi saw. bersabda “Laa nabiyya ba’di”, sedangkan pada beberapa kali kesempatan lainnya beliau saw mengatakan tentang akan datangnya Isa Al-Masih, atau Isa ibnu Maryam yang berpangkat Imam Mahdi, sesudahnya beliau saw. Padahal yang disabdakan sebagai Laa nabiyya ba’di itu adalah tidak akan ada lagi Nabi Utusan Allah yang di luar syari’at beliau, di luar syari’at Islam, sebagaimana dalam hadits yang senada, Nabi Muhammad saw bersabda: "inniy aakhirul-anbiya' wa inna masjidiy aakhirul-masaajid" Artinya: Aku adalah nabi yang terakhir dan mesjidku adalah mesjid yang terakhir. (Hadits shahih riwayat Muslim), bahwa tidak akan ada lagi nabi dan tidak ada lagi mesjid yang di luar syari’atku, tidak akan ada lagi Nabi dan mesjid yang di luar syari’at Islam. Demikian juga ada beberapa hadits-hadits lainnya di mana Nabi Muhammad saw mengatakan “Laisa bainii wa baina iisa nabiyyi wa innahu nazila …….. “ Tidak ada seorang Nabi antara aku dan Isa, dan sungguh ia – Nabi Isa itu - akan turun ……. (HR Abu Dawud dari Hadhrat Abu Hurairah ra; dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 388843).

Dalam perjalananan sejarahnya selama kurang lebih 120 tahun, Ahmadiyah sering kali dimusuhi dan di-terror maupun difitnah baik di India, di Pakistan, khususnya di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti di Indonesia. Akan tetapi, fakta sejarah yang telah berlangsung lebih dari 100 tahunan itu, semuanya merupakan ujian bagi keimanan orang-orang Ahmadiyah dan ujian bagi kebenaran dari ajaran yang dibawanya; bahkan banyak kali menjadi iklan yang berguna bagi kemajuan Jama’at Ahmadiyah di seluruh dunia. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Allah Taala berfirman di dalam Surah An-Nisaa’ -4- ayat 59:

Yaa ayyuhal ladziina aamanuu athii’ullaaha wa athii’ur rasuula wa ulil amri minkum fa in tanaaza’tum fii sayi-in fa rudduuhu ilallaahi war rasuuli in kuntum tu’minuuna billaahi wal yaumil aakhiri dzaalika khairuw wa ahsanu ta’wiilaa.

Hai orang-orang yang (sudah) beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan di antara-mu. Dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hal yang demikian adalah yang paling baik dan paling bagus akibatnya.

Nasihat ini adalah bagi orang yang sudah beriman, kepada orang yang sudah beriman kepada Allah dan Rasul, Nabi Muhammad saw. Bahwa, dalam setiap perselisihan dan ketidak kesepakatan itu, baik antara penguasa dan rakyat, maka hal itu hendaknya diputuskan menurut ajaran Alquran; jika Alquran diam mengenai perkara itu, maka hendaknya menurut sunnah dan hadits. Akan tetapi, jika Alqur-aan, sunnah dan hadits diam mengenai perkara tersebut, hendaknya diserahkan kepada orang-orang yang diberi wewenang mengurusi perkara tersebut.

Sekali lagi semoga umat Islam dapat terhindar dari pandangannya yang salah dan sikap perbuatannya yang keliru dengan hasud dan berburuk sangka tanpa mengemukakan dalil dan fakta yang sah dan benar, agar senantiasa berdoalah semoga dengan karunia dan kasih-sayang-Nya serta ke-Murahan-Nya semuanya dapat terselamatkan dari azab kemurkaan Allah yang telah dijanjikan kepada orang yang ingkar tersebut.


Sabtu, 16 Agustus 2008