Pendahuluan
Aspek terpenting kehidupan Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmadas, al-Masih al-Mau’ud (Al-Masih Yang
Dijanjikan), Imam Mahdi, Imam Zaman dan Pendiri Jemaat Ahmadiyah, berkaitan
dengan kecintaan yang tak tertandingi dan tak terbatas kepada Baginda Nabi
Muhammad shallAllahu ‘alaihi wa sallam. Aspek kehidupan Hadhrat Hadhrat
Masih Mau’ud as menjadi begitu sangat penting, karena di abad ini banyak
orang Muslim menganggap bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmadas, Naudzu
billah, telah menghina Baginda Nabi saw.
Sangat penting untuk membantah
propaganda palsu yang disebarkan oleh mereka yang berusaha mendiskreditkan Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmad as dengan cara ini, karena tuduhan-tuduhan demikian
sama sekali tidak benar dan sangat tidak sesuai dengan kenyataan.
Hadhrat Masih Mau’ud kerasukan cinta yang sangat mendalam
terhadap Majikannya, Khatamul Anbiyya, Kekasih Allah, Baginda Nabi Muhammad saw,
sepanjang sejarah sejak wafatnya Nabi Muhammad saw tidak ada seorangpun
yang memiliki kecintaan yang begitu mendalam kepada Baginda Nabi Muhammad saw,
dan rasanya hampir tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata.
Kecintaan Hadhrat Hadhrat Masih
Mau’ud kepada Rasulullah saw adalah seperti makanan bagi jiwa beliau, setiap
detik dalam kehidupan beliau larut dalam kecintaan dan ketaat an dan
pengkhidmatan kepada Rasulullah SAW. Hanya karena pengkhidmatan dan ketaat an
beliau kepada Hazhrat Rasulullah saw sajalah maka Allah SWT
menganugerahi beliau pangkat Al Masih dan Al Mahdi, yang
kedatangannya telah dinubuwatkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri.
Cara-cara beliau as mengungkapkan
kecintaannya kepada Rasululullah saw sangat berlimpah sehingga mustahil
untuk mencakup setiap aspeknya. Kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as penuh
dengan contoh-contoh cinta sejati kepada Rasulullah saw,
layaknya seperti langit dipenuhi dengan bintang-bintang. Sangat sulit untuk
diungkapkan dengan kata-kata untuk menggambarkan kecintaan ini.
Kehidupan Cinta dan
Pengabdian
Tanda seorang kekasih sejati adalah bahwa
dia bersedia mati dan mengorbankan segalanya demi kekasih yang dicintainya. Hasrat
kecintaan yang tulus ini ada pada Hadhrat Masih Mau’ud as dengan
intensitas sedemikian rupa hingga contoh-contohnya tidak dapat ditemukan
dimanapun. Setelah kecintaan kepada Allah yang Maha Agung, ciri khas dari
kehidupannya yang paling bersinar adalah kecintaan dan kesetiaannya kepada
Hadhrat Rasulullah saw. Keinginan untuk mengorbankan dirinya demi sang kekasih
dan taraf kecintaannya kepada Rasulullah saw telah mencapai puncaknya
dalam kehidupan pecinta sejati ini.
Kegairahan untuk mengorbankan dirinya
demi agama yang dibawa oleh sang kekasih Muhammad saw datang dari kedalaman
hatinya dalam bentuk doa.
“Kukorbankan hatiku demi agama
Muhammad saw;
Inilah keinginan hatiku, Oh, seandainya bisa tercapai keinginanku. “
Rasa kesetiaan ini tidak terbatas
hanya keinginan belaka. Seluruh kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as, setiap saat
setiap waktu, seluruh kekuatan dan kemampuannya, dinisbahkan untuk pelayanan
agama – Islam, yang dibawa oleh Nabi saw. Seluruh kehidupan Hadhrat
Masih Mau’ud as dipergunakan dalam bentuk Jihad, atau berjuang dijalan Islam.
Demikian beliau menyatakan dirinya, “Atas karunia (sebagai buah jasa) majikanku
yang mulia, aku telah diberkati dengan jiwa yang penuh kecintaan, meskipun menanggung
luka, aku akan terus menerus mengkhidmati agama ini. Dan pada kenyataannya, kehidupan
yang menyenangkan dan diberkati adalah kehidupan yang dipergunakan untuk
mengkhidmati dan menyebarluaskan agama Ilahi.”[2]
Ini adalah kehidupan yang sangat
diberkati yang dianugerahi kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.
Beliau selalu melakukan permohonan doa yang mendalam untuk pembaharuan dan
keunggulan Islam. Beliau berjuang dalam perang empat arah berhadapan dengan
musuh-musuh Islam. Beliau menegakkan keadilan dengan Jihad pena, bahwa setiap
beliau digagalkan dengan serangan-serangan dari musuh Islam, dan dengan bantuan
ruhul kudus, Islam diberi kekuasaan dan kemenangan di segala bidang. Betapa
indahnya pernyataan Hadhrat Masih Mau’ud berikut ini: “Kita hancurkan jajaran musuh dengan
argumentasi kita; ‘Kita gunakan fungsi pedang dengan Pena kita.”
Literatur yang telah disusun dalam
buku Ruhani Khaza’in atau ‘Harta Karun Rohani,’ berisi
kumpulan buku-buku yang ditulis oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, berjumlah lebih
dari 80 buah buku. Ini adalah sebagai saksi hidup atas bakti Jihad beliau. Oleh
sebab itulah maka pada saat kewafatan beliau, para penentang Ahmadiyah
mengingat beliau sebagai pembela Islam yang berjaya.
Hidup dan kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as penuh dengan pengkhidmatan kepada Islam. Hal ini disebabkan murni karena kecintaan sejati beliau kepada Hadhrat Rasulullah saw, besarnya perasaan beliau terhadap Islam. Hadhrat Masih Mau’ud as secara terbuka telah dikutuk dan difatwa kafir atas beliau. Beliau telah mengalami penderitaan atas segala penganiayaan, tetapi hanya karena kecintaan beliau kepada Hadhrat Rasulullah saw, pecinta sejati ini menanggungderitakan semua hal ini, dan kesetiaan beliau kepada Islam tidak berkurang sedikitpun. Beliau menyatakan: “Kami telah melebur dalam kecintaanmu; Kami menggunakan setiap bagian tubuh kami dalam caramu, ya Rasul.”
Bila kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud
as ini, yang penuh dengan pengabdian kepada Islam, bukan sebagai perwujudan
yang jelas atas cintanya kepada Baginda Nabi saw, lalu apalagi namanya ?
Setiap hal yang
berkaitan dengan Baginda Nabi saw dicintai oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.
Tanda lain dari pecinta sejati adalah
ia ”menjual” dirinya, seolah-olah, demi kekasih yang dicintainya dan
mengorbankan segalanya yang ia punya demi untuk kekasihnya. Beliau as bahkan
mulai mencintai hal-hal yang berkaitan dengan kekasihnya. Mengenai hal ini mari
kita lihat sejenak kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as.
Beliau nyatakan dalam untaian bait
bahasa Parsi: “Hidupku dan hatiku, tiada yang lain kecuali pengorbanan untuk
kemuliaan kekasihku Muhammad saw, saya seakan, sebutir debu di lorong jalan Muhammad
saw.”
سرے دارم فدائے خاکِ احمد ؐ
دلم ہر وقت قربانِ محمدؐ
میرا سر احمد ﷺ کی خاک پر فدا ہے اور میرا دل ہر وقت آپؐ پر قربان ۔
“Saya
bersedia berkorban meletakkan kepala saya pada debu Ahmad saw, hatiku
setiap saat berkorban untuk beliau saw.”[3]
Saat sang Rembulan
kita (Nabi saw) melirik dengan penuh cinta kasih pada hati kita,
Hati kita
yang gelap segera berubah jadi perak nan murni berkilau.
Karunia
kekasihku nan luas terus mengundang di setiap momen;
Meskipun orang-orang yang bukan dari kita terus menjauhkan kita dari jalan itu,
Siang maupun
malam, ku terbaring bagai debu di jalan kekasihku saw;
Tanda lain
apakah yang ada bagi keberuntungan dan kehormatan kita?[4]
“Aku bersedia berkorban jiwa dan hatiku demi keindahan
Muhammad saw, tubuhku kukorbankan sebagai debu pada lorong jalan yang
dilewati keluarga Muhammad saw.”[5]
Hadhrat Masih
Mau’ud as memperlihatkan kecintaan yang besar
sekali terhadap keturunan Baginda Nabi saw.
Hadhrat Dr Syed Abdus Sattar(ra) bai’at pada tahun 1901, dan masuk
dalam komunitas Muslim Ahmadiyah. Beliau mengisahkan pada satu kesempatan,
ketika Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berbaring –baring diatas charpai (kasur yang terbuat dari jerami) di
dalam taman. Saya juga ikut duduk-duduk disana bersama beberapa yang lain.
Tiba-tiba, Hadhrat Masih Mau’ud menatap beliau dan berkata: “Dr Sahib! Mari
duduk bersama saya diatas charpai ku.” Beliau menjawab: “saya malu-malu bila saya harus duduk
disamping Hadhrat Sahib” (Hadhrat Masih Mau’ud as). Hadhrat
Masih Mau’ud as mempersilahkan lagi kepada beliau untuk duduk disamping
beliau, Tapi Dr Sattar dengan sopan menjawab: “Tidak apa-apa Hudhur, saya di sini saja.” Tetapi Hadhrat Masih Mau’ud mengulang lagi
sampai ketiga kalinya dan berkata; “Mari duduk bersama saya di charpai ku ini, karena Tuan adalah Syed
(Sayyid, keturunan Baginda Nabi saw), dan ini adalah kewajiban saya untuk
menghormati Tuan”.
Dalam hal kecintaan Hadhrat Masih
Mau’ud as kepada keturunan Baginda Nabi saw, Hadhrat Sayyeda Nawwab
Mubarakah Begum Sahiba(ra) mengisahkan
bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berbaring-baring ditaman diatas charpai.
Pada saat itu bulan Muharram. Hadhrat Masih Mau’ud as teringat kejadian
menyakitkan di Karbala. Kecintaan beliau kepada Baginda Nabi saw dan
keturunannya mulai mengalir sebagaimana adanya. Beliau memanggil dua anaknya
yang masih kecil-kecil. Demi untuk mengingat Majikan yang dicintainya dan
mengajarkan anak-anaknya tentang kecintaan kepada keturunan Nabi Muhammad saw,
beliau berkata: “Mari
anak-anak, aku akan ceritakan kepada kalian kisah tentang Muharram.” Hadhrat Masih Mau’ud as kemudian dengan sedih
mengisahkan kejadian yang berhubungan dengan disyahidkannya Hadhrat Imam
Hussain(ra), sementara air mata mengalir dari matanya. Keadaan aneh
telah menguasai dirinya. Hatinya larut dalam kesedihan yang mendalam memikirkan
penderitaan kesyahidan cucu Baginda Nabi saw. Beliau mengungkapkan perasaan
hatinya dengan cara yang sangat menyedihkan dengan kata-kata berikut ini: ‘Yazid
kotor itu telah melakukan kekejaman terhadap cucu Baginda Nabi kita tercinta
saw. Tetapi Allah juga mencengkeram para penganiaya itu dengan sangat cepat dan
menghukum mereka.’
Cerita tentang kehidupan rumah tangga
beliau as ini adalah bukti bersinarnya kecintaan beliau yang luar biasa
terhadap Baginda Nabi saw.
Mari kita lihat untaian bait puisi
beliau as dalam bahasa Parsi:

“Wahai
cintaku! Jika di lorong jalanmu
kepala-kepala para pecintamu dipenggal, orang pertama yang menyatakan cintaku padamu
adalah diriku.”[6]
Bukti kecintaan beliau as yang
amat sangat tertuang dalam untaian bait, seolah-olah beliau tidak sanggup terpisah
dari kekasihnya walau sedetik saja. Beliau berkata:
‘Hatiku kukorbankan untuk setiap
jengkal tanah yang telah kau injak; Oh! Andai aku terlahir di kampung halamanmu yang diberkahi itu.’
Samudera tiada
bertepi
Perasaan dan keibaan hati yang diungkapkan
Hadhrat Masih Mau’ud as terhadap majikan dan kekasihnya, Muhammad saw
adalah bagai samudera tiada bertepi. Dapat dinyatakan dengan penuh keyakinan
dan kepercayaan bahwa kecintaan yang diungkapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud
as kepada majikan tercintanya, dan cara dimana beliau telah membinasakan
dirinya dalam cinta, adalah sedemikian rupa sehingga rasanya seperti tidak bisa
ditemukan dalam sepanjang sejarah Islam. Dapat dikatakan secara pasti bahwa
kecintaan sang pecinta sejati ini, yang telah diungkapkan kepada majikannya
adalah sedemikian rupa belum pernah terjadi sebelumnya dan tiada tandingannya
dalam segala aspek.
Setiap kata dari tulisan-tulisan Hadhrat
Masih Mau’ud as memiliki keharuman kecintaan ini. Setiap perilaku beliau
as mencerminkan keindahan Muhammad saw. Ada beberapa contoh yang begitu
indah dari kecintaan yang dapat dilihat dalam kehidupan beliau, yang juga
mengagumkan, menjadi pertanyaan, apakah mungkin bagi seseorang untuk merasakan
cinta sampai taraf seperti itu?. Setiap pemikirannya berputar sekitar kekasih
tercintanya. Beliau terlepas dari keterbatasan fisik dan waktu, dan jiwa beliau
bergerak menuju majikan tercintanya menyatakan:
جسمي يَطِيرُ إليكَ مِن شوق عَلا يا ليتَ كانت قـوّةُ الطيَرانِ
‘Tubuhku
mendambakan terbang kepadamu disebabkan oleh kerinduan yang sangat kepadamu; Ooh, andaikan aku
memiliki kemampuan dan kekuatan untuk terbang.’
Dalam terang cahaya penjelasan Tulisan beliau
Tulisan
seseorang secara sempurna mencerminkan pemikiran-pemikirannya dan ketulusan
perasaannya. Tulisan-tulisan beliau as yang berkaitan dengan kecintaan
terhadap Baginda Nabi saw adalah seperti taman yang dipenuhi ratusan
bunga-bunga. Sebutan apalagi yang harus saya tampilkan, dan bagian mana yang saya
berani menghilangkannya?
Saya sajikan hanya dua contoh dari
karangan Hadhrat Masih Mau’ud as yang penuh wawasan rohani dan sebagai
gizi bagi jiwa: “Cahaya dalam
taraf tertinggi yang dilimpahkan kepada manusia sempurna tidak terdapat
pada malaikat-malaikat, tidak
terdapat pada bintang-bintang, tidak terdapat pada bulan, tidak terdapat pada matahari, tidak terdapat
di dalam samudera ataupun di kedalaman sungai-sungai, tidak terdapat
pada batu ruby, zamrud, safir ataupun mutiara; pendek kata, itu semua tidak terdapat
pada benda-benda duniawi maupun surgawi. Cahaya itu hanya ada dalam diri
manusia sempurna yang memiliki keteladanan paling tinggi, paling mulia dan
paling sempurna, ialah majikan kita, Penghulu semua
nabi, Penghulu semua makhluk hidup, Muhammad, Manusia Pilihan. (shallAllahu
‘alaihi wa sallam).[7]


Syair-syair beliau
Bila seseorang membaca puisi beliau,
dapat dilihat setiap baitnya memuaskan kecintaan kepada Baginda Nabi saw. Syair-syair
diungkapkan dari kedalaman hati beliau dan penuh dengan kecintaan. Hadhrat
Masih Mau’ud as menyatakan:
وہ پیشوا ہمار ا جس سے ہے نور سارا
نام اس کا ہے محمد ؐ دلبر میرا یہی ہے
‘woh pesywa hamara jis se he nuur saara;
‘naam uska Muhammad, dilbar mera yehii he’
‘Dialah
pemimpin kami, darinya-lah
sumber segala cahaya;
Namanya
adalah Muhammad saw,
hanya dialah
kekasihku.’
Kemudian, beliau sebut kekasih
sejatinya dalam kata-kata berikut ini:
‘Wahai
kekasihku, Aku bersumpah demi ketunggalanmu,
Kami
telah kehilangan diri kita sendiri dalam cintamu.
تیری اُلفت
سے ہے معمور میرا ہر ذرہ
اپنے سینہ
میں یہ اک شہر بسایا ہم نے
Setiap
bagian tubuhku dipenuhi dengan kecintaan padamu,
Puisi berbahasa Parsi beliau juga
penuh dengan kecintaan yang luar biasa. Orang bisa menyaksikan ungkap yang baru
dan tidak pernah ada sebelumnya. Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan:
دگر اُستاد را نامے ندانم
کہ خواندم در دبستان محمد ؐ
“Aku tidak tahu nama guru yang lain;
untuk memperoleh ma’rifat (wawasan rohaniah), Aku hanya belajar di sekolah
Muhammad saw.
ندانم ہیچ نفسے در دو عالم
کہ دارد شوکت و شان محمد ؐ
میں دونوں جہانوں میں کوئی ایسا فرد نہیں پاتا جو محمد ﷺ جیسی شان و شوکت رکھتا
ہو ۔
Aku tidak tahu seorangpun, di dua
dunia; yang memiliki kemegahan lebih hebat dan lebih agung daripada Muhammadsaw.[10]
Ada aliran samudera cinta kepada Baginda Nabi di dalam hatiku; Beliau sedemikian rupa
sehingga tidak ada seorangpun seperti beliau dalam hal kesempurnaan dan
kualitas.
بعد از خدا بعشق محمدؐ مخمرم
گر کفر ایں بود بخدا سخت کافرم
خدا تعالیٰ کے بعد میں محمد مصطفےٰ ﷺ کے عشق میں دیوانہ ہوچکا
ہوں اگر اس عشق کی دیوانگی کا نام کوئی کفر رکھتا ہے تو خدا کی قسم میں سخت کافر
ہوں (کیونکہ آپ ﷺ سے میں شدید محبت رکھتا
ہوں )
Setelah Tuhan, aku mabuk dalam
kecintaan kepada Muhammadsaw; Jika ini adalah sebuah kekafiran, maka
demi Tuhan, Aku adalah seorang Kafir yang hebat.’
Syair diatas sungguh-sungguh syair
yang unik dalam hal cara mengungkapkan cinta dan kesetiaan. [11]
Juga, bila kita melihat sepintas
puisi-puisi berbahasa Arab beliau, akan didapati suatu contoh cinta dan
pengabdian yang berbeda. Beliau menulis syair pujian terdiri dari 70 bait yang
merupakan karya tak tertandingi. Saya sajikan terjemahan beberapa syair Arab
beliau yang membuktikan kecintaan Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as yang
besar sekali terhadap Baginda Nabi saw.
“Bila
rasa air manis seperti madu; Demi Allah, samudra Muhammadsaw jauh lebih hebat rasa manisnya !”
Kemudian, beliau menyatakan: “Oleh
karena rasa cinta dan pengabdianku yang sangat besar ini, aku akan masuk
kedalam kuburan Baginda Nabi saw secara rohani, Tetapi wahai musuh-musuh
petunjuk ! Kalian tidak tahu rahasia ini.”
Kesaksian cinta
yang belum pernah terjadi sebelumnya
Cinta adalah sesuatu yang tidak bisa
disembunyikan. Setiap orang bisa melihat dan merasakannya. Kecintaan sejati
yang dimiliki Hadhrat Masih Mau’ud as terhadap majikan tercintanya telah
disaksikan oleh dunia. Para pengikut beliau telah membuktikannya begitu juga
yang lainnya.
Mengacu kepada masyarakat surgawi
(para malaikat), Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan, “Suatu waktu saya
menerima wahyu, yang maksudnya, secara rohani, seolah-olah masyarakat surgawi
sedang berselisih, maksudnya, Allah berkehendak untuk menghidupkan kembali
agama dengan kekuatan penuh, namun belum, pilihan kepada orang yang akan
menghidupkan kembali iman belum jelas dan oleh sebab itu mereka menolak.
Seseorang datang berdiri di hadapanku
dan menunjuk, sambil berkata, ‘Inilah
orangnya yang mencintai Rasul Allah saw.’ Dan pernyataan ini dimaksudkan bahwa
kondisi terbaik untuk jabatan rohani adalah kecintaan terhadap Baginda Nabi saw
dan saya memenuhi persyaratan itu.”[12]
Pernyataan dari Babu Muhammad Uthman
Likhnawi, ketika ia pergi ke Qadian pada tahun 1918 dan bertemu dengan seorang
Hindu, Lala Badhu Mal, atau mungkin Lala Malawamal, yang sering disebut dalam buku-buku Hadhrat
Masih Mau’ud as. Ia bertanya kepada seorang Hindu itu, apakah ia pernah bertemu
dengan Hadhrat Masih
Mau’ud as baru-baru
ini, dan apa pendapatnya tentang orang itu. Seorang Hindu itu menjawab; “sampai
saat ini belum pernah saya menemukan seorang Muslim yang begitu mencintai
nabinya sedemikian besarnya.”[13]
Seorang penulis terkenal, ‘Allamah
Niyaz Ahmad Khan Niyaz Fatah Puri mengakui sehubungan kecintaan Hadhrat Masih
Mau’ud as terhadap Baginda Nabi saw: “Ia adalah
seorang pencinta Nabi dalam tulisan-tulisannya dan gairahnya.”[14]
Kesaksian penulis terkenal yang lain
Mirza Farhatullah Baig, juga patut disebutkan. Ia mengatakan, “Paman saya Mirza
Inayatullah Baig, dia berkata padaku, ‘Jika kapan saja engkau pergi mengunjungi Tn.
Mirza Ghulam Ahmad, selalu perhatikanlah kedua matanya.’ Ia
menulis, “Saya pergi ke Qadian dan terus mengamati kedua mata beliau, dan
kelihatan seolah-olah semacam air hijau beredar di kedua matanya. Ketika saya kembali dan mengatakan hal ini
kepada paman saya,
paman mengatakan, ‘Dengarlah Farhat, jangan
pernah mengatakan kata-kata yang buruk tentang orang itu. Dia pencinta sejati Nabi Muhammad
saw.’
Kemudian saya tanya pamanku, ‘Bagaimana paman bisa menyimpulkan hal
ini?’
Paman berkata, ‘Pencinta
sejati Nabi Muhammad saw yang terus menerus mengingat beliau saw, matanya
berubah berwarna hijau.’”[15]
Sehubungan dengan hal kecintaan
Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as terhadap Baginda Nabi saw, putra Hadhrat
Masih Mau’ud as, Hadhrat
Mirza Bashir Ahmad(ra) mengatakan: “Saya pasti mati satu hari nanti. Saya
bersumpah demi Majikan
Surgawiku bahwa saya tidak pernah
melihat apabila disebut Baginda
Nabi saw, meskipun hanya disebut namanya saja, mata Hadhrat Masih Mau’ud as tidak
berlinang air mata. Setiap bagian dari Hadhrat Masih Mau’ud as, jiwa dan
raganya seluruhnya berlimpah dengan kecintaan terhadap majikannya, Baginda Nabi
Muhammad saw.”[16]
Hadhrat Dr Mir Muhammad Ismael(ra) mengatakan, “Demi Tuhan saya
bersumpah, …saya tidak pernah melihat seseorang yang memiliki kecintaan
berlimpah kepada Allah SWT, dan Rasul (Pesuruh) Allah saw, yang melebihi
Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as.”[17]
Mengingat sang
kekasih, siang dan malam
Satu tanda cinta sejati adalah si
pencinta sejati selalu tetap terlibat dalam ingatan kepada orang yang dicintainya.
Ini adalah benar Almasih AlMauud as. Terus menerus dengan tiada hentinya
mengingat kekasihnya adalah makanan bagi jiwa Hadhrat Masih Mau’ud as. Selain
itu, memohon berkah dan salam bagi majikannya dan membicarakan tentang beliau
saw adalah kesibukan Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as siang dan malam.
Begitu indahnya gambaran Hadhrat Masih Mau’ud as dalam syair puisi
berikut ini:
وَذِکْرُ الْمُصْطَفےٰ رَوْحٗ لِقَلْبِیْ
وَصَارَلمھجتی مِثْلَ الطَّعَامٖ ٖ
نبی کریم ﷺ کی یاد میں میرے دل کا سکون ہے اور (آپؐ کا ذکر) میری
جان کے لیے غذا کی مانند ہے (جس کے بغیر میں زندہ نہیں رہ سکتا))
‘Mengenang Nabi Karim (Nabi nan Mulia, Hadhrat
Muhammad Mustafa saw) adalah
jiwa hatiku, dan bicara tentang Baginda Nabi saw adalah seperti makanan bagi
ragaku, aku tidak bisa hidup tanpanya.’[18]
Juga di ungkapkan dalam bait syair bahasa Urdu
oleh Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as:
‘Jiwaku memiliki hubungan yang kekal
abadi dengan Muhammadsaw;
Aku telah membuat hatiku meminum
piala cinta ini.’
Sehubungan dengan Durud Sharif, atau mengirim salawat
kepada Baginda Nabi Muhammad saw, Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as melukiskan salah satu pengalaman beliau dengan
kata-kata berikut ini: “Saya terkenang pada satu malam saya sedang
khusyuk mengingat, mengirim salawat dan memohon berkah bagi Nabi Muhammad saw
sehingga hati dan jiwaku menjadi mengharum seketika. Pada malam yang sama aku
melihat dalam mimpiku orang-orang membawa kedalam rumahku wadah air terbuat
dari kulit penuh dengan cahaya Ilahi dalam bentuk air dan salah seorang dari
mereka berkata: Inilah berkat-berkat yang telah kau kirimkan kepada Muhammad
saw.”[19]
Sebagai tambahan dari contoh-contoh
beliau sendiri, Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as selalu menganjurkan
pengikutnya untuk mengirim salawat kepada baginda nabi Muhammad saw. Setiap
kali ada orang meminta nasihat beliau, beliau selalu menyarankan, mintalah
ampun kepada Allah (Istighfar) dan kirimkan salam kepada Baginda Nabi Muhammad
saw (Durud
Sharif) sebanyak-banyaknya. Tidak ada latihan spiritual yang lebih
hebat dari ini. Seringkali beliau mengatakan bahwa shalat lima waktu dan Durud Sharif adalah latihan spiritual yang paling agung.
Pada satu saat orang bertanya, berapa banyak salawat yang harus diamalkan, Hadhrat
Masih Mau’ud as menjawab, “bacalah salawat sampai lidahmu kenyang
sepenuhnya.”[20]
Pentingnya Durud Sharif bisa dipahami bahwa diantara syarat-syarat
Bai’at, syarat ketiga dari sepuluh syarat Bai’at yang ditetapkan oleh Hadhrat Hadhrat
Masih Mau’ud as adalah mengirim shalawat yang berlimpah kepada Hadhrat
Muhammad saw dan tetap konsisten melakukannya.
Salam dan salawat kepada Baginda Nabi
saw dan menyebut-nyebut namanya
banyak terdapat di karangan-karangan, Puisi dan ucapan-ucapan Hadhrat Hadhrat
Masih Mau’ud as. Tidak ada pencinta yang pernah menyebut-nyebut kekasihnya sampai
sedemikian luasnya, seperti yang Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as lakukan
terhadap majikan tercintanya, Baginda Nabi Muhammad saw.
Gemuruh Kecintaan atas Baginda
Nabi Muhammad saw
Kemarahan dan cinta adalah dua hal
yang yang saling jalin-menjalin. Seorang pencinta sejati tidak akan sanggup
mendengar hal-hal yang buruk tentang kekasih tercintanya.
Hadhrat Sheikh Yaqub Ali Irfani(ra)
mengisahkan bahwa; “ketika saya pergi ke Inggris pada tahun 1925, saya
ingin bertemu Reverend Wight, karena pendeta ini pernah bertugas di Batala, dan
pernah bertemu dengan Hadhrat Masih Mau’ud as beberapa kali. Ketika
mereka sedang berdiskusi ia mengatakan: “Saya melihat satu hal pada Mirza
Sahib, yang mana saya tidak suka. Setiap kali tuduhan-tuduhan ditujukan kepada
Nabi Muhammad saw, dia menjadi kecewa dan raut wajahnya berubah.” Setelah mendengar ini, Mr Irfani membuat
komentar yang indah. Ia mengatakan, “Wahai Reverend! Hal yang Anda tidak suka
itu, jiwaku kupersembahkan untuk itu.”[21]
Ada kisah lain lagi dari Hadhrat Mirza
Sultan Ahmad(ra), salah satu putera Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau
tidak menerima Ahmadiyah di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as; (beliau menerima Ahmadiyah
di zaman Khalifah kedua). Beliau menceritakan ringkasan pengalamannya sebagai
berikut:
“Satu
hal yang secara khusus saya lihat pada ayah saya, yaitu, Hadhrat Masih Mau’ud
as, beliau tidak tahan mendengar hal buruk sekecil apapun tentang Rasulullah
saw. Bila seseorang mulai bicara yang bertentangan dengan keluhuran status
Rasulullah saw, wajah ayahku memerah, matanya menunjukkan kemarahan, dan beliau
akan segera meninggalkan tempat itu. Ayahku sungguh-sungguh mencintai Baginda
Nabi saw. Tidak pernah saya melihat cinta seperti itu pada orang lain.”[22]
Hadhrat Masih Mau’ud as lembut
dan baik hati, tetapi beliau paling tidak tahan mendengar kata-kata yang
bertentangan tentang majikan sucinya. Berkaitan dengan kata-kata menyakitkan
orang-orang kristen terhadap Baginda Nabi saw, beliau mengatakan: “Kata-kata
menyakitkan para penentang terhadap ciptaan terbaik ini, damai dan berkah Allah
besertanya, telah melukai hatiku. Demi Allah aku bersumpah jika seluruh
anak-anakku, dan anak-anak dari anak-anakku, dan seluruh sahabat-sahabatku, dan
seluruh pembantu-pembantuku dibunuh di depan mataku, dan tangan dan kakiku dipotong,
dan mataku dicungkil, jika saya kehilangan semua keinginan-keinginanku,
kehilangan semua kebahagiaan dan kenyamananku, dibandingkan dengan semua hal
ini, duka cita kesedihan kenestapaan itu lebih hebat ketika serangan-serangan
kotor ditujukan kepada pribadi suci Rasulullah saw.”[23]
Banyak kejadian-kejadian yang
meningkatkan keimanan yang didapat dari kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as. Pada
satu ketika selama perjalanan Hadhrat Masih Mau’ud as sedang menunggu di
stasiun Lahore. Tiba waktu shalat Ashar, dan Hadhrat Masih Mau’ud as mengambil
wudhu di masjid terdekat. Pemimpin Arya yang terkenal Pandit Lekhram menemukan Hadhrat
Masih Mau’ud ada di sana
dan bergegas ke arah beliau as. Ia merapatkan tangannya sebagaimana orang Hindu
memberi salam, dan ia memberi salam kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Hadhrat
Masih Mau’ud as sepintas melihat kearah dia dan tanpa memberi terlalu
banyak perhatian beliau meneruskan berwudhu. Pandit Lekhram kemudian mendekati Hadhrat
Masih Mau’ud as dari arah lain dan memberi salam satu kali lagi, tetapi Hadhrat
Masih Mau’ud tetap terdiam. Ketika Pandit mulai kecewa dan pergi, seorang teman
dengan sopan bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa pandit
Lekhram telah datang dan memberi salam beliau. Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab,
ہمارے آقا کو تو گالیاں
دیتا ہے اور ہمیں سلام کرتا ہے “ia telah mencaci maki majikan kita [Rasulullah saw] dan
memberi salam kepada kita?”[24]
Pada satu kesempatan, orang-orang
Arya mengadakan kongres di Lahore, dan berjanji tidak akan mencaci maki
Rasulullah saw, dan mereka juga mengundang Hadhrat Masih Mau’ud as untuk
memberi ceramah. Karenanya, Hadhrat Masih Mau’ud as menulis bahan
ceramah dan mengirim Hadhrat Maulwi Nur-ud-Din(ra) (yang kemudian menjadi Khalifah
pertama setelah wafatnya Hadhrat Masih Mau’ud as) dengan beberapa sahabat,
untuk menghadiri Jalsah (pertemuan) itu. Tetapi mereka lupa
pada janjinya, kaum Arya secara lisan mengumpat dan mencaci-maki nabi Muhammad saw selama acara
berlangsung. Ketika Hadhrat Maulawi Nur-Ud-Din(ra) kembali bersama delegasinya melapor kepada
Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as, meskipun beliau sahabat dekat Hadhrat Masih
Mau’ud as, beliau merasa sangat kecewa. Hadhrat Masih Mau’ud as bertanya
kepadanya, bagaimana bisa dia tetap duduk di situ padahal majikan tercintanya
difitnah? Beliau meneruskan, “Mengapa kalian tidak beranjak pergi? Bagaimana
bisa kalian tetap diam dan mendengarkan semua perkataan mereka?” Jelas ini menunjukkan kedalaman cinta
yang dimiliki Hadhrat Masih Mau’ud as terhadap majikan tercintanya.
Perlakuan yang baik pada kerabat
adalah hal mendasar dalam ajaran Islam. Hadhrat Masih Mau’ud as mengikuti
ajaran ini dengan penuh perhatian. Tetapi bila ada perkatan tidak baik mengenai
Rasulullah saw, beliau sangat geram. Pada suatu saat, istri dari paman Hadhrat
Masih Mau’ud as, Mirza Ghulam Haidar, mengucapkan kata-kata yang tidak pantas terhadap
status keagungan Rasulullah saw. Meskipun perasaan menghargai dan tali ikatan
keluarga, Hadhrat Masih Mau’ud as merasa sangat bersedih atas hal ini
sehingga beliau berhenti makan, berdiri lalu pergi. Setelah kejadian itu beliau
tidak pernah makan di sana
lagi.
Pada tahun 1893, Orang-orang Kristen
mengadakan debat dengan Hadhrat Masih Mau’ud as di Amritsar, acaranya
bernama Jang-e-Muqaddas, atau Perang Suci. Dr Henry Martin Clark mengundang
Hadhrat Masih Mau’udas untuk
minum teh bersama dengan tamu-tamu lain. Beliau menolak undangan tsb, atas
dasar orang-orang ini tidak memiliki sikap hormat terhadap Majikan suci saw beliau, dan menganggap beliau saw sebagai pembohong, na’udzu billah,
namun mereka mengundang beliau untuk minum teh? Karena beliau sakit hati beliau
tidak bisa duduk bersama dengan mereka, kecuali jika tujuannya adalah untuk
menyanggah ideologi-ideologi palsu mereka.
Ketaatan kepada
tuannya di setiap langkah
Kecintaan Hadhrat Hadhrat Masih
Mau’ud as kepada Hadhrat Rasulullah saw dapat dipastikan oleh kenyataan
bahwa kecintaan yang tak terbatas dan ketaatan beliau bergemerlapan disetiap gerakan
dan tingkah laku beliau. Suatu saat, Hadhrat Masih Mau’ud pergi ke sidang
pengadilan di Gurdaspur, pada saat itu sedang musim panas. Dengan kenyamanan
dalam pikiran Hadhrat Masih Mau’ud as, para pengikut beliau menyiapkan kasur
dilantai atap agar supaya ada sirkulasi udara. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud naik
keatas dan melihat tidak ada dinding penyekat di atap itu, beliau berkata
kepada para pengikutnya, apakah mereka tidak tahu bahwa majikan tercinta mereka
telah mengajarkan agar jangan tidur diatap tanpa dinding? Lalu, Hadhrat Masih
Mau’ud tidak tidur disana. Beliau memilih tidur dibawah dalam ruang tertutup,
meskipun suhu panas luar biasa.[25]
Seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’udas bernama Mirza Din Muhammad(ra),
mengisahkan bahwa satu kebiasaan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah
mencelupkan jari-jari tangannya kedalam air, kemudian dipercikkan ke wajahnya
[wajah Mirza Din Muhammad agar bangun tidur]. Ketika ia bertanya kepada Hadhrat
Masih Mau’ud mengapa tidak memanggil (berteriak) saja untuk membangunkannya,
pencinta sejati ini menjawab, karena ini adalah kebiasaan majikan beliau, Baginda
Nabisaw.[26]
Pada kesempatan lain, Hadhrat Masih
Mau’ud as sedang duduk-duduk di dalam kamar bersama beberapa tamu lain.
Tiba-tiba ada orang mengetuk pintu dan salah satu tamu tersebut berdiri untuk
membuka pintu, namun Hadhrat Masih Mau’ud segera bangkit dari duduknya dan
berkata kepada tamu tersebut, “Tunggu, Tunggu! Saya yang akan buka pintunya.
Anda adalah tamuku, dan Baginda Nabi saw telah mengajarkan bahwa tamu harus
dimuliakan.”[27]
Sepanjang hidupnya, Hadhrat Masih
Mau’ud as sangat erat
mengikuti contoh-contoh Baginda Nabisaw, dan menganjurkan para sahabatnya untuk melakukan
hal yang sama. Hal ini tertuang dalam kisah Hadhrat Masih Mau’udas dengan nasehatnya, ‘Para laki-laki harus membantu istrinya
melakukan pekerjaan rumah tangga. Ini adalah perbuatan baik. Rasulullahsaw membantu istrinya melakukan pekerjaan rumah tangga.’[28]
Kisah indah in menunjukkan betapa Hadhrat
Masih Mau’udas memiliki
kecintaan yang dalam terhadap Rasulullahsaw. Pemikiran
tuannya selalu berada di dalam
hatinya dan pikirannya, dan selalu mengutip contoh-contoh Rasulullahsaw,
setiap saat melakukan perbuatan baik.
Ungkapan kecintaan
yang sangat besar
Kecintaan yang tertanam di dalam hati Hadhrat Masih Mau’udas
terhadap Rasulullahsaw adalah
kesaksian hidup atas cintanya dan kesetiannya yang sangat besar.
Pada satu hari Hadhrat Masih Mau’ud
as sakit dan terbaring di tempat
tidur. Istri beliau, Hadhrat Amma Jaan(ra) dan ayahnya, Mir Nasir Nawwab sedang
duduk-duduk di rumah saling
berbincang-bincang. Ketika sampai bicara masalah Haji (Pergi ke Mekah), Hadhrat
Mir Nawwab mengatakan, “Sekarang perjalanan untuk Haji sudah sangat mudah,
orang-orang harus pergi berhaji.” Hadhrat Masih Mau’ud as
mendengar pembicaraan ini. Beliau mulai berpikir tentang Ka’bah (Rumah Allah di Mekah – bangunan
berbentuk kubus), dan kuburan Rasulullah saw (di Madinah). Oleh karena kecintaannya
yang sangat besar air mata mulai mengalir dari kedua matanya. Muncul keinginan Hadhrat
Masih Mau’ud as yang amat sangat untuk pergi berhaji
sementara air mata terus mengalir dari kedua matanya, kemudian beliau mengusap
air matanya dan berkata kepada Hadhrat Mir Nawwab: “Itu benar dan itu juga
keinginan tulus kami, tapi aku berpikir pada diriku sendiri, apakah aku akan
sanggup melihat kuburan Rasulullahsaw?”
Contoh-contoh demikian yang terjadi
secara pribadi adalah benar-benar merupakan kesaksian kebenaran cinta Hadhrat
Masih Mau’ud yang dalam dan murni. Beliau tidak pernah berpura-pura ataupun
membual atas kecintaannya ini. Satu contoh yang sangat unik khususnya yang
menunjukkan kecintaan kepada Rasulullahsaw dirasakan oleh Hadhrat
Masih Mau’ud as ialah dalam kisah berikut. Hadhrat Maulawi
Abdul Karim dari Sialkot mengisahkan bahwa satu sore beliau memasuki masjid Mubarak,
dan melihat Hadhrat Masih Mau’ud as berjalan bolak-balik sendirian. Beliau sedang
mengucapkan kalimat puisi Hassan bin Thabit(ra), yang ditulis
pada saat wafatnya Rasulullahsaw:
كُنْتَ السـَّوَادَ
لِنَاظِرِي
فَـعَمَى عَلَيْـكَ النَّاظِرُ
مَن شَـاءَ بَعْدَكَ فَلْيَمُتْ
فَعَـلَيْكَ كُنْتُ أُحَـاذِرُ
فَـعَمَى عَلَيْـكَ النَّاظِرُ
مَن شَـاءَ بَعْدَكَ فَلْيَمُتْ
فَعَـلَيْكَ كُنْتُ أُحَـاذِرُ
‘Wahai
kekasihku! Engkau adalah manik mata dari mataku. Hari ini, dengan kewafatanmu,
mataku menjadi buta. Sekarang, setelah engkau siapapun bisa mati, aku tidak
peduli, aku hanya takut kematianmu.’
Hadhrat Masih Mau’udas terlepas dari dunia dan semua yang ada di sekitarnya, dan larut dalam keharuan.
Ketika beliau mendengar langkah-langkah kaki, beliau mengacungkan tangannya
yang sedang memegang saputangan, seketika itu juga Hadhrat
Abdul Karim melihat air mata mengalir dari kedua matanya.
Dalam kisah lain disebutkan bahwa Hadhrat
Masih Mau’udas berkata,
“Aku sedang membaca bait Hassan bin Thabit(ra) , dan gairah ini
datang kepadaku, itu, کاش یہ شعر میری زبان سے نکلتا ۔ ‘Kaasy! Yeh sye’er meri
zaban se nikalta.’ Wahai! Andai saja bait puisi ini
datang dari lidahku”.[29]
Merenungkan fakta bahwa seseorang
merasa duka cita atas kematian orang yang dicintainya, dengan berjalannya waktu
perasaan duka cita itu akan sembuh. Tetapi mari kita lihat keadaan pencinta
yang tulus ini. Tiga belas abad telah berlalu sejak kewafatan kekasihnya. Dalam
kesendirian beliau teringat kewafatan kekasihnya, dan samudera emosinya mulai
mengalir. Kumpulan puisi Hadhrat Masih Mau’udas tak
tertandingi. Tetapi pada saat membaca syair puisi penuh dengan kesedihan yang
mendalam, ditulis oleh sahabat Rasulullahsaw, Hadhrat Masih
Mau’ud merasa bahwa ini adalah suara lubuk hatinya. Lalu, secara naluriah
beliau mengandaikan seandainya saja beliau sendiri yang membuat bait sajaknya.
Pengakuan Orang
Lain
Dalam bahasa Arab dikatakan bahwa
keunggulan sejati adalah apabila musuhpun mengakui. Seperti, keagungan cinta Hadhrat
Masih Mau’ud as adalah
sedemikian rupa bahkan musuh paling keji Ahmadiyah pun terpaksa mengakui bahwa
kecintaan Hadhrat Masih Mau’udas kepada majikannya
tidak ada seorangpun yang menandinginya. Kesaksian ini terwujudkan
sedemikian rupa ketika para musuh-musuh itu menggunakan karya-karya Hadhrat
Masih Mau’udas dalam
ceramah-ceramah dan karangan-karangannya, tetapi karena kurangnya moral
keberanian mereka, mereka tidak mencantumkan nama Hadhrat Masih Mau’udas.
Beberapa orang sangat-sangat tidak jujur, mereka memalsukan karya-karya rohaniah
Hadhrat Masih Mau’ud as yang mendalam dan berwawasan,
mengatasnamakan sebagai hasil karya mereka sendiri atau orang lain. Daftar nama
penjiplak itu sangat panjang. Bagaimanapun juga, contoh-contoh ini secara jelas
membuktikan bahwa bahkan para musuhpun terpaksa menyerah pada karya-karya besar
dan megah untuk memuji Rasulullahsaw, yang ditulis oleh sang
pencinta sejati, Hadhrat Masih Mau’udas.
Semua hal yang
kumiliki adalah kepunyaan tuanku
Ungkap lain dari seorang pencinta
sejati dalam hubungannya dengan sang kekasih adalah ia menganggap dirinya sama
sekali tidak ada apa-apanya. Ia meyakini bahwa kekasihnya adalah sumber semua
kualitas dan ia menempatkan dirinya lebih rendah dalam segala hal.
Tuhan telah menganugerahi Hadhrat
Masih Mau’ud as kedekatan
khusus denganNya. Dia telah memilih Hadhrat Masih Mau’udas sebagai pembaharu agama. Dia menganugerahinya maqom
yang luhur sebagai Hadhrat Masih Mau’ud dan Imam
Mahdi. Allah menyatakan kecintaanNya yang luhur kepada beliau melalui
wahyu-wahyu yang diturunkan kepadanya, tetapi para penentang beliau yang
berwawasan dangkal tidak peduli dengan kenyataan ini. Apakah ada orang pernah
melihat sebegitu besarnya rasa kasih sayang sehingga orang itu membinasakan
dirinya dan mengorbankan segala kehormatannya demi majikan yang dicintainya? Hadhrat
Masih Mau’ud as menyatakan:
“Aku bersumpah demi namaNya (Allah), bahwa Dia
telah menganugerahiku kehormatan ma’iyyat [kebersamaan,
Allah menyertai dan membimbing beliau]. Tetapi aku menerima karunia ini, semata-mata
karena aku mengikuti Rasulullahsaw. Seandainya aku bukan dari
Ummah (Komunitas Muslim ), dan
tidak mengikuti beliausaw, seandainya amal kebaikanku sebesar
gunung-gunung yang ada di dunia ini sekalipun, seandainya pun adalah demikian,
maka aku tepat tidak diberkahi dengan naungan kebersamaan dari Ilahi.”
Berkaitan dengan majikannya dan
pemimpinnya, Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan: ‘Kukorbankan
diriku untuk kehidupannya, aku melebur menjadi dirinya; Dia adalah segalanya, apalah
diriku ini, inilah kenyataan yang mutlak.’
Hadhrat Masih Mau’udas menyatakan: “Tidak mungkin aku
mendapatkan keberkahan ini, jika aku bukan orang yang mengikuti cara-cara
pemimpinku dan majikanku, Penghulu para Nabi, Makhluk ciptaan terbaik, Muhammadsaw,
Makhluk Pilihan, damai dan keberkahan Allah dilimpahkan kepadanya. Jika
demikian, status apapun yang telah aku capai, aku telah mencapainya dengan
mengikuti beliausaw.”[30]
Bicara tentang keberkahan-keberkahan
Ilahi yang dilimpahkan kepada beliau, Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan: ہم پر جو اللہ تعالیٰ کے فضل ہیں یہ سب
رسول اکرم ؐ کے فیض سے ہی ہیں ۔ آنحضرت ؐ سے الگ ہو کر ہم سچ کہتے ہیں کہ کچھ بھی
نہیں اور خاک بھی نہیں۔ ‘Ham par jo Allah Ta’ala ke fadhl hei’
yeh sab Rasul Akram ke faidh se hii hei’. Aahadhrat shallallahu ‘alaihi wa
sallam se alag ho kar ham sac kehte hei’ keh kuch bhi nehi aur khaak bhi nehi.’
– “Apapun keberkahan
Allah yang dilimpahkan kepada kami, ini semua berkat karunia Rasulullahsaw.
Jika kami terpisah dari (atau tidak ada ikatan dengan) Rasulullahsaw,
Sungguh kami katakan, kami tidak ada apa-apanya, tidak sebutir debu pun.” [31]
Ini adalah keluhuran status dari
cinta sejati, kesetiaan dan ketaatan kepada Rasulullahsaw, yang
dianugerahi kepada Hadhrat Masih Mau’ud as oleh Allah SWT.
Hendaknya agar patut selalu diingat
bahwa apapun yang didapat Rasulullahsaw, adalah langsung dari
Allah SWT. Apapun yang didapat Hadhrat Masih Mau’udas dalam hal status dan keberkahan Ilahi adalah
hanya karena kebenaran dan ketulusan, tiada tandingan dan ketaat an yang
sempurna kepada majikannya, Rasulullahsaw. Itulah sebabnya
yang satu bergelar majikan dan guru yang sempurna saw dan yang lainnya karena ketaat annya kepada
majikan, mendapat gelar Hadhrat Masih Mau’udas. Betapa
indahnya Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan:
بر تر گمان
و وہم سے احمد ؐ کی شان ہے
جس کا غلام
دیکھو مسیح الزمان ہے
‘Keagungan
Ahmadsaw (Rasulullah
saw) lebih hebat dari apa yang bisa dipahami;
Pembentukan
Komunitas Pencinta Rasulullah saw
Kecintaan Hadhrat Masih Mau’udas terhadap Rasulullahsaw
tidak dibatasi pada kehidupan diri pribadi beliau sendiri. Sebaliknya,
kecintaan ini berlanjut terus bahkan setelah kewafatan beliauas.
Tulisan-tulisan beliau tetap hidup, begitu pula contoh-contoh perilaku
beliau. Setelah kewafatannya, beliau telah meninggalkan komunitas yang berbakti
dibawah pimpinan Khilafat yang penuh dengan kecintaan kepada Rasulullahsaw.
Komunitas ini dinamakan Komunitas Muslim Ahmadiyah (Jemaat Islam Ahmadiyah).
Sekarang, atas karunia Allah,
samudera cinta yang tiada bertepi ada dalam hati setiap orang Ahmadi. Semua ini berkat
karunia Allah dan keberkahan-keberkahanNya. Lentera kecintaan kepada Muhammad
saw begitu luhurnya sehingga
sekarang cahaya itu bersinar di setiap hati orang Ahmadi, dan dari lentera ini
banyak lentera-lentera lainnya juga ikut menyala. Seorang Kristen di
Afrika dalam penolakannya sering mengucapkan kata-kata kotor terhadap
Rasulullahsaw. Setelah ia bergabung dalam jemaat, ia sampai
tertidur saking asyiknya mengirim salawat kepada nabi Muhammad saw,
dengan lidah (ketika ia mencaci maki) yang sama setiap malam. Sekarang, jumlah
pengikut setia Muhammadsaw sudah
tidak terhitung jumlahnya. Pembentukan komunitas pengikut seperti ini yang
penuh dengan kecintaan kepada Muhammad Rasulullahsaw adalah kesaksian terang benderang dari
besarnya kecintaan Hadhrat Masih Mau’udas kepada Nabi Muhammad Rasulullahsaw.
Inilah maksud sebenarnya dari karunia
abadi Khatam-e-Nubuwwat (Cap Kenabian), yang dianugerahkan
kepada Komunitas Muslim Ahmadiyah buah manis dari Hadhrat Masih Mau’udas.
Jadi, kita juga mendapat anugerah kecintaan Rasulullahsaw
yang tidak akan pernah berkurang melalui pencinta sejatinya, Hadhrat Masih
Mau’udas. Inilah cahaya yang bersinar disetiap hati orang Ahmadi
dan akan terus bersinar sampai hari kiamat. Kita tidak boleh membiarkan
kecintaan kepada Hadhrat Rasulullahsaw berkurang.
Kesimpulan
Dua bulan yang lalu penentang Ahmadiyah
di Lahore secara membabi buta telah menyerang dua orang Ahmadi, dan menumpahkan
darah orang Ahmadi yang tidak berdosa dan setia kepada Islam. Di dalam rumah Allah, ketika sedang
dilaksanakan shalat jum’at, jamaah yang tidak punya pertahanan diserang. Musuh
berpikir bahwa melalui kebiadaban dan teror, mereka dapat membuat pencinta
Rasulullahsaw kehilangan
kekuatan cintanya.
Tetapi orang-orang itu tidak tahu
bahwa komunitas ini telah bersumpah teguh siap mengorbankan segalanya demi
kemuliaan nama Muhammad Rasulullahsaw. Lihatlah bagaimana
para syahid ini telah meninggalkan kisah kesetiaan sejati dan cintanya yang
ditulis oleh darah mereka. Inilah orang-orang yang telah memenuhi sumpah
kesetiaan dan menjadi bintang-bintang yang bersinar di langit Ahmadiyah.
Melalui orang-orang seperti inilah seolah-olah tercipta galaksi kecintaan
Muhammad Rasulullahsaw, pengorbanan mereka akan selalu mengingatkan
kita. Inilah orang-orang yang walaupun di saat-saat sekarat, tidak melupakan
Dua Kalimat Syahadat dan Shalawat Nabi. Mereka membaca salawat dan mengajak
yang lain membaca salawat, mereka menghadapi kematian langsung didepan matanya,
mereka mempersembahkan hidupnya kehadapan Allah SWT. Dengan mendapat gelar
Syahid, mereka menjadi pewaris kehidupan yang abadi. Mereka telah mencapai tujuan
hidup mereka, dan atas karunia Allah, setiap orang Ahmadi berdiri diatas tekad
mereka yang tak tergoyahkan, karenanya kita tidak boleh beranjak selangkahpun
dari jalan kebenaran dan ketulusan ini, karena hati kita dipenuhi dengan
kecintaan kepada Muhammad Rasulullahsaw.
Wahai orang-orang bengis! Kalian
boleh lakukan apa yang kalian inginkan! Kalian boleh menyakiti kami dengan
penganiayaan apapun yang kalian suka, tapi ingat, kalian tidak akan pernah bisa
menjauhkan kami dari Khatamul Anbiyasaw, dan kecintaan kami
kepada beliau.
Atas karunia Allah, Komunitas Muslim Ahmadiyah
telah terbentuk dari benih kecintaan kepada Muhammad saw. Inilah
kehidupan kami. Kami hidup dengan kecintaan ini. Kematian kami juga atas
kecintaan ini. Bahkan pada saat kematian kami, setiap lidah orang Ahmadi pasti
menyebut slogan-slogan kecintaan ini. Sebagai kata-kata penutup dari pencinta
terhebat Muhammad saw, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ‘Tidak ada rasul atau juru syafaat
untuk seluruh umat manusia, kecuali Muhammad Mustafasaw. Oleh
sebab itu, kembangkanlah kecintaan sejati kepada Nabisaw yang
mengagumkan ini, dan jangan mengutamakan yang lain selain beliau, sehingga
kalian tertulis diantara mereka yang mencapai keselamatan di surga.’[33]
(sumber: 2015-05-20 18:50 GMT+07:00 dildaar ahmad dartono <dilyani@gmail.com>)
[1] Penyusun: Mln. Ataul Mujeeb Rasheed, Muballigh
incharge UK (Inggris) dalam ceramah Jalsah Salahah UK 2010. Sumber: www.alislam.org; Penerjemah : Wawan
Hadiyat; editor: Dildaar Ahmad
[13] Siratul Mahdi, part 3, p.19
[14] Nigar, July 1960, quoted in Tarikh-e-Ahmadiyyat,
vol.3, p.580
[22] Sirat-e-Tayyibah, p.34, by
Hadhrat Mirza Bashir Ahmad(ra)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar